Monday, December 03, 2012

The Days are Long, But The Years are Short


Meminjam kutipan dari Gretchen Rubin author of The Happiness Project di atas, rasanya memang benar adanya. Ini saya rasakan ketika saya baru pertama kali mempunyai bayi/anak.  Pada saat-itu, rasanya ingin sekali bayi/anak kita tumbuh dengan cepat, ingin cepat bisa tengkurap, ingin cepat bisa merangkak, ingin cepat bisa berjalan, ingin cepat bisa berlari, ingin cepat bisa sekolah, dan keinginan-keinginan lainnya tentang tumbuh kembang anak kita, pokok nya pengen cepat besar. Dan hari-hari penantian melihat anak kita berkembang tumbuh menjadi besar, rasanya lama sekali. Hari terasa lambat berjalan.

Akan tetapi, ketika anak kita sudah besar, sudah sekolah, sudah pintar, wooww……  ternyata tahun cepat sekali berganti. Rasanya baru kemarin kita mengingat anak kita baru bisa berjalan, baru bisa mengucapkan kata pertama nya, baru bisa belajar bersepeda, baru bisa membaca, baru bisa mengaji, baru berulang tahun yang ke 3, ternyata sekarang sudah sekolah di SD.

Saya masih ingat ketika anak pertama saya yang bernama Farras Fadhil Muhana memulai aktivitas sekolah nya di Play Group dekat rumah, ketika dia dengan muka innocent nya pagi-pagi berangkat sekolah, berkenalan dengan orang-orang baru seusianya, bernyanyi dan menari bersama guru dan teman-temannya, memulai belajar membaca Al-Quran Iqro’ , memulai belajar membaca Ba-Bi-Bu-Be-Bo, ikut lomba baca Puisi, ikut lomba membaca, ikut lomba puzzle dan segala aktivitasnya yang lain. Rasanya semuanya itu masih berada di depan mata, tapi sekarang Farras sudah berusia 6 tahun, sudah bersekolah di SD kls 1. Sudah mengaji Juz’amma, sudah bisa membaca koran & buku cerita nya sendiri, belajar Matematika sudah pintar, belajar bahasa Inggris cepat menyerap.

Begitu waktu cepat sekali berlalu, sekarang Farras sudah memiliki adik perempuan yang sudah berusia 2 tahun. Masih terbayang, bagaimana dulu perjuangan saya dibantu suami untuk bisa memberikan ASI eksklusif kepada 2 buah hati kami. Kami diberikan kemudahan oleh Allah SWT, rumah mertua saya dekat dengan tempat saya bekerja, sehingga ketika Farras dan adiknya Fayda masih bayi, saya bisa bolak-balik kantor dan rumah mertua untuk memberikan ASI eksklusif. Setiap jam 10 pagi dan jam 12 siang, saya minta izin dari kantor untuk bisa memberikan ASI kepada anak-anak saya. Alhamdulillah kantor pun member izin. Dan begitu ASI eksklusif telah selesai, di usia 6 bulan, rasanya plooong sekali hati ini, perjuangan saya rasanya ada harganya. Tiada yang lebih indah ketika kita bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak-anak kita, salah satu nya bisa memberikan ASI eksklusif, suatu anugerah tak terhingga, rasa cape,lelah,terbayar sudah.

Kini Farras dan Fayda tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan ceria. Dulu saya merasakan lamaaa sekali Farras dan Fayda besar, tapi ketika sudah besar, tidak terasa ternyata waktu cepat sekali berlalu.

Sering saya mengingat kembali bagaimana Farras dan Fayda dulu ketika masih bayi. Farras yang temasuk bayi “bandel”, lumayan kewalahan saya menghadapi Farras bayi, menyusu nya tidak kenal waktu dan berjam-jam!! Kalau saja saya mudah menyerah dan tidak ada support dari suami, mungkin saya sudah berhenti untuk memberikan ASI eksklusif untuk Farras. Tapi Alhamdulillah itu tidak saya lakukan. Pada saat Farras berusia 9 bulan, saya sempat sakit selama 2 minggu, karena kecapaian, dan dokter menyarankan saya untuk berhenti dulu memberikan ASI. Berhubung Farras sudah bisa diberi susu formula, maka saya hentikan ASI untuk sementara, tapi itu pun dengan rasa berat hati yang sangat dalam. Dan ketika saya sudah fit dan tidak lagi meminum obat-obatan dari dokter, saya coba untuk memberikan ASI lagi ke Farras. Betapa sedihnya saya…. Farras tidak mau saya beri ASI!!! Saya menangis……. seeediiihhh…. rasanya. Suami saya menghibur saya untuk tidak sedih. Coba lain waktu lagi, mungkin Farras mau ASI, kata suami saya. Dan ketika Farras tidur, saya pun tidur di samping Farras, dengan harapan, jika Farras terbangun, saya bisa langsung memberikan ASI saya. Dan benar saja…. Farras “lilir” mencari susu, tanpa fikir panjang, saya langsung menyodorkan ASI saya, dan tidak disangka… Farras langsung menyambar ASI saya. Saya senang bukan kepalang!!! Farras mau ASI saya lagi!!! Dan akhirnya saya berhasil memberikan ASI saya hingga Farras usia 2 tahun 6 bulan.
Jika ibu-ibu yang lain ketika menyapih anak-anak nya dengan berbagai cara, ada yang putting susu nya (maaf) diberi obat merah atau lipstick, ada yang diberi ramuan pahit, ada yang di do’a in oleh “orang pintar” supaya si anak tidak ingat ASI lagi dan cara-cara yang lainnya, tapi tidak dengan saya, semenjak usia Farras 1 tahun, ketika Farras menyusu pada saya, saya sering berkata pada Farras, nanti kalau adek sudah usia 2 tahun, adek tidak bisa menyusu lagi pada ibu, satu tahun lagi, adek bisa menyusu pada ibu ya… kalimat seperti itu yang selalu saya katakana pada Farras. Dan ketika Farras sudah waktunya untuk disapih, tidak terlalu sulit saya menyapihnya. Awalnya memang tidak tega ya… melihat Farras “sakau” akan ASI. Tapi lama-lama… Farras sudah bisa melupakan ASI.

Berbeda dengan Fayda, Fayda termasuk bayi yang tidak rewel, mungkin karena perempuan ya….. .Dan tepat di usia 2 tahun, saya sudah tidak memberikan ASI lagi untuk Fayda. Fayda pun termasuk anak yang tidak sulit untuk di sapih. Cara-cara yang saya pakai untuk menyapih Farras, saya terapkan juga pada Fayda.

Mengingat kembali momen-momen bersama anak-anak, memberikan nuansa hati tersendiri untuk saya. Kerepotan, kewalahan, kecapaian, keluh kesah, kebahagiaan, canda tawa, mewarnai itu semua. Dan semua itu terasa indah untuk dikenang.

6 comments:

  1. Wahhhh Mbak, postingannya bikin saya melamun ke tahun-tahun awal punya Bayi. Rasanya harum kayu putih dan keringat bayi masih tercium harumnya...

    ReplyDelete
  2. @ mba sarijeruk : terima kasih sudah mampir, iya mba... moment bersama anak2 apalagi ketika masih bayi adl moment yg tdk bisa dilupakan :)

    ReplyDelete
  3. menyapih ya, tidak pernah saya rasakan.
    karena saya sempat sakit dua bulan ketika Zia berumur enam bulan dan stop ASI untuk kesehatannya.
    sedih sih, tapi mau gimana lagi . . .

    ReplyDelete
  4. @ catatan-cinta-bunda : ya... mba terkadang ada hal2 yg membuat rencana2 dan keinginan2 kita terhalang, seperti sakit. Tapi yg penting, kita sudah memberikan yg terbaik yg kita bisa untuk anak2 kita.

    ReplyDelete
  5. anak-anak seperti bergegas beranjak besar n saya kadang tidak siap, ingin memeluk mereka dan mencium lebih lama seperti saat baby

    ReplyDelete
  6. @ Rina S Esaputra : betul mba.... dan kadang kalo anak2 sdh besar,dicium ibunya sudah tidak mau, malu katanya hehehe...

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran