Wednesday, April 23, 2014

Rumah Bambu Mbah, Rumah Kerinduan

  



Rumah bilik terbuat dari bambu dan atap rumbia. Tak ada kursi dan meja tamu. Alas rumah berupa bambu yang jika dipijak akan berbunyi dan bergerak. Hanya hamparan tikar sebagai tambahan penghangat. Kamar mandi pun terbuat dari bambu yang atasnya tak beratap. Air mengalir deras dari pancuran bambu pula, dingin dan segar. Air sungai bersih dan membuncah elok. Suasana pedesaan dimana Mbah ku dulu tinggal. Jika malam, dingin terasa, bunyi pohon-pohon yang beradu karena angin, suara-suara binatang malam yang saling bersahutan. Kerinduan yang sangat akan tempat Mbah ku dulu tinggal. Ahhh.... Mbah, rindu diriku akan dirimu. Rindu diriku akan rumah bambu mu. Rumah sangat sangat sederhana, tapi rumah kerinduan. Jika pagi hari, akan tercium aroma asap dari tungku api mu. Pagi hari gemblong (uli) bakar atau pun gemblong goreng akan terhidang bersama teh hangat. Udara pagi yang sejuk dan segar, menambah keindahan alam desa Mbah ku. Ahh... Mbah, Mbah ku yang pendiam, tapi penyayang. Mbah ku yang pendiam, tapi penyabar. Mbah ku yang lemah lembut. Tak banyak cerita yang keluar dari mulut Mbah ku. Tapi aku belajar menjadi perempuan yang rapi seperti Mbah. Di rumah bambu sederhana mu, rumah mu terlihat rapi, bersih dan indah dipandang. Walaupun tak ada barang-barang di dalam rumah mu, aku tetap senang. Senang bisa berlari-lari di dalam rumah bambu mu, karena bambu yang ku injak akan berderak-derak. Senang melompat-lompat di atas tempat tidur Mbah yang sudah rapi. Tapi Mbah ku tak pernah marah, atau melarang-larang. Ahh... Mbah ku yang pendiam, baru terasa sungguh rindu diriku akan dirimu, rindu rumah  bambu mu. Mbah... dengan kesendirian mu, engkau begitu tegar. Rumah mu adem, seadem wajah mu, Mbah.... Jika aku bosan di dalam rumah bambu Mbah, maka aku akan menyusuri sungai yang masih jernih airnya, dan masih mengalir deras. Pohon-pohon bambu akan mengeluarkan bunyinya seiring angin yang menyapanya. Kesegaran dan keindahan Sang Maha Pencipta. Sungguh pemandangan yang tak akan hilang dalam ingatan.


- Cipanas, Rangkasbitung -


Tak akan bisa ku ajak Farras dan Fayda, cicit mu, untuk mengunjungi rumah bambu mu, karena kini rumah bambu Mbah sudah tak ada, berganti dengan rumah tembok. Kini Mbah sudah tak ada, hanya makam Mbah pelipur rindu ku. Kini sungai yang jernih dan deras, sudah menipis airnya, sudah tak ada lagi air pancuran sebagai kebutuhan utama. Tungku api pun sudah berganti. Bau asapnya yang khas, tak akan pernah aku hirup lagi. Memandang wajah mbah dan melihat rambut panjangnya yang abu-abu, sudah tak bisa lagi aku lakukan. Mbah.... semoga engkau tenang di sisi Nya. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Nya. Dan semoga surga sudah menunggu mu disana. Aamiin.



“A Place to Remember Giveaway”

53 comments:

  1. Nenek suamiku juga rumah nya bambu mba di bandung Lupa Nama daerah ya apa. Nenek suami masih sehat..

    ReplyDelete
  2. Rumah bambu memang adem ya mbak, apalagi bila didalamnya terdapat kisah yang selalu terkenang...
    Semoga Mbah tenang dialam sana dan bahagia melihat cucunya yang selalu mengenangnya
    Sukses untuk GA-nya mbak

    ReplyDelete
  3. ademnya rumah bambu sama ga ya dengan rumah kayu? dulu aku lahir di rumah kayu sampai usia 3 tahun, dan di kampung ibuku rata-rata adanya rumah kayu semua atapnya pun dari daun rumbia (sagu), rasanya adem banget.

    ReplyDelete
  4. rumah bambu itu enak,adem,sislir2 ya mbk hehe

    ReplyDelete
  5. Kenangan yang ngga mungkin hilang ya..

    ReplyDelete
  6. Adem emang kalo rumahnya begitu ya, mbak....:)

    ReplyDelete
  7. Jadi inget rumah bambu di Semarang pas KKN.

    ReplyDelete
    Replies
    1. punya kenangan juga di rumah bambu ya... :)

      Delete
  8. Rumah Bambu, jadi keingetan Nenek saya yang di Brebes jawa tengah
    Mbak Santi. walau rumahnya Bambu tapi penuh kasih sayang , tawa canda
    Dan sangat dengan kata motivasi dan bimbingan. makasih atas infonya Mbak Santi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas. walaupun tempatnya dingin, tapi penuh dengan kehangatan :)

      Delete
  9. saya kok pengen ya tinggal di rumah kayu atau bambu hehe jadi makin pengen setelah mampir ke sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah merindukan rumah bambu seperti ini :D

      Delete
  10. sukses mak...aku juga suka rumah bambu....

    ReplyDelete
  11. rumah bambu penuh kenangan yah.. deskripsinya mantep :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul. Rasanaya pengen mengulang kembali. Makasih mak...

      Delete
  12. rumahnya penuh kenangan bgt ya Mba..good luck Ganya ya

    ReplyDelete
  13. Aku pernah ngrasain tinggal di rumah bambu walaupun cuma sebagian aja mbak heheh. skrng uda ganti tembok semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak... keknya rumah bambu sudah langka ya..

      Delete
  14. rumah bambu ,rumah panggung jadi ingat jaman kecil diajak ke pedesaan gitu

    ReplyDelete
  15. Waah.. Aku keinget rmh bambu di baduy, bentukmya miriip sm di foto2 itu. Dan rentang mba, aku jd kangen mamak (mbah)ku di lampung. Tulisan ini penuh kenangan bangeet

    Makasih yaa sdh ikutan, sdh kucataaattt :*
    Dan kapan kita kopdaar hehe

    ReplyDelete
  16. ngeliat rumah model seperti itu rasanya hati tambah adem, tentrem bebas dari kebisingan kota.

    ReplyDelete
  17. hiks....kok bunda jadi sedih ya baca tulisan ini.... :(

    jadi, ikut inget sama Almarhumah Nenek.....

    Semoga sukses di GA ini ya mbak ..

    salam

    ReplyDelete
  18. Aaaaah, harum sekali Ulinya, Mbah. :)

    Kangen ya, Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Idah, kangen sama Mbah juga kangen sama rumahnya

      Delete
  19. Disini lebih banyak rumah kayu mbak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. rumah kayu dan rumah bambu, sama2 rumah dulu ya... yg skrg sdh jarang lagi

      Delete
  20. Halo mbak, salam kenal. Makasih dah mampir ke http://dihandayani.blogspot.com ya... Rumah lama, tungku perapiannya itu juga yang bikin unik ya... Rumah Eyang saya walaupun sudah tembok tapi di dapur masih ada tungku. Kalau pagi dingin-dingin nongkrong di depan tungku rasanya hmmmmm... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal kembali. Makasih juga sudah mampir disini :)

      Delete
  21. Dear mbak, makasih dah mampir yaaa.
    Salah satu keunikan lain rumah tua itu tungku perapiannya ya... Rumah alm eyang saya di Madiun walaupun sudah tembok tapi masih ada tungku api di dapur. Kalu pagi dingin" nongkrong depan tungku menyala wah rasanya gimanaaa gitu... :)

    ReplyDelete
  22. kunjungan perdana, salam perkenalan, silahkan berkunjung balik ketempat saya, barangkali berminat saya punya banyak vcd pembelajaran untuk anak2, siapa tau anda mempunyai adik,keponakan atau mungkin anak yang masih kecil, vcd ini sangat membantu sekali dalam mengasah kecerdasan dan kemampuan otak anak, serta bagus untuk membangun karakter dan moral anak sejak usia dini, semoga bermanfaat dan mohon maaf bila tdk berkenan, trm kasih ^_^

    ReplyDelete
  23. Lebih baik di sini... *jreng-jreng
    Rumah kita sendiri... *jreng-jreng

    ReplyDelete
  24. Orangnya mungkin udah gk ada, tapi kenangannya tetep hidup, ya :)

    ReplyDelete
  25. Kenangan yang selalu tersimpan ya mbak

    ReplyDelete
  26. Saya juga merindukan rumah Mbah saya dulu Mbak. Teparnya rumah yang lama, yang model jadul. Banyak kenangan masa kecil di situ

    ReplyDelete
  27. jadi teringat rumah bambu di kampung halamanku,,yg terletak di pinggir sungai....,
    selamat berlomba,,,semoga menjadi yg terbaik...
    keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  28. sedih banget membacanya,,,semoga mbah tenang di sana dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Nya Amiiien :)

    ReplyDelete
  29. rumah bambu, kayaknya seger banget....
    rumah simbahku di desa tp pake kayu gak bambu dan seger rasanya cm kalo malam lebih dingin.....

    ReplyDelete
  30. Rumah simbahku dulu juga begitu Mba, sekarang sudah berganti tembok :( Makin jarang bisa ketemu dengan rumah bambu lagi.

    Terima kasih ya sudah meramaikan GA a place to remember ini. Good luck.

    ReplyDelete
  31. Sekarang di mana ya kalau ingin melihat rumah bambu, di desaku saja sudah tembok semua.

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran