Tuesday, December 16, 2014

Mengendalikan Emosi Anak


Beberapa hari yang lalu, Satpam sekolah Farras mengabarkan kalau Farras dipanggil ke ruang guru bersama temannya, sebut saja B. Deg! Saya kaget, ada apa ini? Kenapa Farras tidakcerita apa-apa sama saya dan ayahnya?

Lalu ditanyalah Farras oleh ayahnya. Dan ternyata kejadiannya adalah : Teman Farras yang bernama A (pura-pura) bertanya pada Farras : "Farras, kalau mencuri itu perbuatan apa?"
Farras menjawab : "Perbuatan tidak terpuji."
Si A langsung lari kearah temannya juga teman Farras yang bernama B, sambil berkata : "B.... Farras ngeledek Om kamu tuh... bilang P**i, P**i gitu... " Si B memang punya paman namanya P**i yang setiap hari menjemput B di sekolah. Eh... langsung deh Si B membalas ejekan Farras (entah ejekannya seperti apa, karena Farras tidak mau cerita tentang itu, Farras bilangnya lupa). Farras memang tipe anak yang selalu menutupi kesalahan temannya yang dilakukan padanya.
Dan Farras balas ngeledek lagi. Terjadilah ejek-mengejek/ledek meledek. B sempat memukul Farras, tapi Farras tak membalas. Akibat kejadian itu, Farras dan B dipanggil masuk ke ruang guru. Diminta penjelasan apa yang terjadi dan dinasehati.

Kesalahan Farras ada dua dalam kasus ini :

Pertama : Farras tidak langsung bercerita pada kami, selaku orangtuanya yang terjadi di sekolah hari itu.

Kedua : Farras tidak bisa menahan emosi, ketika ada temannya (A) yang sepertinya ingin mengadu domba (berat amat ya bahasanya), antara Farras dan B.

Atas kejadian ini, Farras dimarahi ayahnya, dan dinasehati.

Pertama : Apapun yang terjadi di sekolah, mau kecil apalagi besar, ceritakan pada orang tua, pada ayah dan ibu. Farras memang termasuk anak yang easy going, menganggap remeh masalah. Apalagi mungkin Farras pikir, Farras dan B sudah baik-baik saja. Pulang sekolah mereka sudah mengobrol kembali, seperti tidak terjadi apa-apa. Itulah kepolosan anak-anak, hatinya masih bersih, walaupun sempat marahan, tapi tidak masuk ke dalam hati. Tapi kami selaku orangtua Farras, tetap menekankan pada Farras, bahwa kejadian apapun yang terjadi di sekolah, Farras harus selalu cerita. Pada saat dinasehati, Farras sih mengerti. Semoga saja nasehat kami dapat Farras terapkan.

Kedua : Farras tidak bisa menahan emosi ketika B membalas meledek Farras. Padahal Farras kan tidak meledek pada B, Farras hanya korban fitnah (waduuh... apa ya namanya, kalau fitnah kayaknya berat banget deh...), dari temannya yang bernama A. Entah apa maksud A. Kalau bercanda, sepertinya tidak pantas hal tersebut untuk dibuat guyonan. Kami menasehati Farras, seharusnya Farras harus bisa menahan emosi, jangan membalas mengejek lagi. Beri penjelasan pada B, bahwa Farras tidak mengejek pamannya, jelaskan duduk persoalannya. Begitu pun pada guru yang memanggil Farras dan B, seharusnya Farras bisa memberikan penjelasan yang baik pada bu guru, jangan sambil emosi. Juga memberitahu Si A, kalau perbuatannya tersebut tidak baik, dan tidak seharusnya dilakukan, walaupun mungkin niatnya bercanda, tapi akibatnya nanti yang akan timbul, itu yang dikhawatirkan.

Farras sebenarnya adalah anak yang baik, dia selalu perhatian pada teman-temannya. Hal ini bukan versi saya saja, bu gurunya pun bilang seperti itu. Tapi Farras tidak akan tinggal diam jika ada yang dirasa mengganggunya. Mungkin semacam pertahanan/pembelaan diri.

Anak pun memiliki emosi layaknya orang dewasa. Dan tugas orangtualah yang harus mengajarkan bagaimana caranya mengendalikan emosi pada anak. Jangan sampai hanya karena masalah sepele, karena emosi, akhirnya malah menjadi masalah besar. Memberikan nasehat-nasehat berikut contoh penyelesaian masalah bisa orangtua berikan. Orangtua pun harus memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak menyelesaikan masalah dalam keluarga dengan emosi, Jangan mudah marah pada anak jika dirasa anak melakukan kesalahan/keributan. Jika anak-anak secara kontinyu diberikan masukan/wejangan/nasehat seperti itu, dan selalu melihat contoh dalam lingkungan terdekatnya yaitu keluarga, juga selalu memantau lingkungan bermainnya, lambat laun anak pun akan memahami dan melaksanakan perintah/nasehat yang selalu orangtuanya berikan. Karena mengendalikan emosi anak tidak bisa instan, dan tidak bisa dilakukan ketika anak sudah besar, harus pelan-pelan dan ditanamkan sejak anak masih kecil. Memahami emosi anak lalu mengendalikannya memang bukan tugas mudah, tapi harus dilakukan.


"Ini ceritaku menjadi ibu dalam kompetisi "A Mom's Story" yangdisponsori oleh
KUPU BEDDING (www.KupuBedding.com)
ARILEXSHOP (www.ArilexShop.com)
BUTIK BOCAH (www.Instagram.com/butikbocah)
NIKMA BASYAR (www.NikmaBasyar.com)
LADONA INDONESIA (www.Ladonaku.com)"

11 comments:

  1. Betul Mbak, mengendalikan emosi anak sejak dini bisa membantu dia kelak ketika dewasa. Saya dulu kalau emosi, langsung diluapkan, sekarang saya mati-matian mengendalikan emosi saya. Kadang saya stress sendiri, tapi alhamdulillah sekarang ada blog, jadi saya bisa menulis apa saja, walaupun itu tidak dipublikasikan. Cukup draft, habis tu simpan. :)

    ReplyDelete
  2. mengendalikan emosi anak tuh ternyata susah2 gampang ya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener sekali mba Dwi|
      Kita kita yang sudah punya anak pasti mengalami hal yang sama. Suka dukanya mengendalikan EMOSI anak. Kadang anak begitu meledak meledak, sampai ada yang bilang "ayah nakal" gitu kata putri kecil saya kalau sudah marahnya meledak ledak

      Delete
  3. Mengendalikan emosi memang tidak mudah apalagi untuk anak-anak.

    ReplyDelete
  4. Menanamkan rasa pengendalian emosi kepada anak-anak memang tidak mudah, namun sudah harus dimulai dari sekarang agar anak bisa belajar

    ReplyDelete
  5. Pekerjaan berat nih, karena orang tua pun masih harus pandai mengendalikan emosinya ke anak.

    ReplyDelete
  6. Si A ngeselin banget ya mbak. Emang sih ngga setiap anak mau cerita ke oru kalo ada masalah di sekolah. aku dulu jaman sekolah juga gitu Mba. Setelah kejadiannya lewat lamaa gitu baru cerita

    ReplyDelete
  7. Anakku juga suka bilang lupa kalau ditanyain masalahnya di sekolah. Suka gemes deh. Bikin saya tambah penasaran

    ReplyDelete
  8. Jadi nama pamannya temen faras siapa toh kok bisa diplesetin jadi dibilang pencuri?...salah fokus aku.
    Tapi sama sih ama anakku, suka bilang lupa kalo ditanya lebih dalam tentang kejadian buruk di sekolah yg dia alami

    ReplyDelete
  9. Farras memang anak yang baik. Dan, betapa orangtua sangat penting ya, Mbak, membangun komunikasi agar anak senang terbuka dan bercerita kepada ortunya.

    ReplyDelete
  10. Semoga Farras bisa memahami nasehat bapaknya dan mengambil pelajaran dari peristiwa ini ya, mak.

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran