Monday, January 05, 2015

Selamat Tahun Baru Kawan - Puisi KH Mustofa Bisri (Suatu Renungan)

Postingan pertama di tahun 2015. Mendapatkan puisi ini dari seorang teman di kantor, mencarinya di youtube dan ketemu :), membuat saya merenung. Suatu puisi yang sangat menyentuh hati yang terdalam bagi siapapun yang mendengar dan membacanya (menurut saya). Memposting di blog saya ini, agar saya selalu diingatkan, dan agar saya bisa terus merenung, agar saya bisa menjadi muslimah yang lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi dari hari ke hari. Aamiin YRA. Aamiin Ya Allah. Semoga puisi dari KH. Mustofa Bisri yang berjudul Selamat Tahun Baru Kawan ini pun bisa membuat siapa saja yang membacanya dan mendengarnya lewat blog saya ini, mampu menjadi cambuk untuk bisa lebih baik lagi. Suatu renungan yang sangat dalam. Sudahkah kita menjadi manusia yang baik di mata Nya? Hiks...



Dan ini adalah teks nya :

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya?

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah?
Mukminin?
Muttaqin?
Khalifah Allah?
Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin.

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib
rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan.

Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan massa
dan tiba-tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersama-Nya.

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug,
atau pernyataan setia pegawai rendahan, kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam Ibu-ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius kita
Memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga.

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat.
Ketika datang lapar atau haus; kitapun menggut-manggut,
“Oh beginikah rasanya.”
Dan kita sudah merasa  memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak
melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia..
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran,
upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda.

Haji kita tak ubahnya tamasya  menghibur diri,
mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar,
lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi. Haji.

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersama-Nya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifah-Nya.

Kawan, tak terasa kita semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita,
paling tidak kita semakin pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semuanya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata, demi semua yang baik,
halallah semua sampaipun yang paling  tidak baik

Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi?
Jangan ganggu mereka.
Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak ke mana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Kawan, selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk dan memandang diri sendiri?

25 comments:

  1. I loooveeee Gus Mus bangeet nget ngeet. Semua karya doi itu brilian, fenomenal, nyelekit tapi BENER KABEH Mak :))
    Duh, waktunya instropeksi diri

    ReplyDelete
  2. Yuk ah, saatnya menunduk dan memandang diri sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, mengawali tahun dgn cara menunduk, memandang diri sendiri

      Delete
  3. Puisinya dalam. semoga menjadi perenungan setiap tahun dan tiap hari

    salam kenal kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. dalam banget, cocok utk perenungan diri kita

      Delete
  4. Bagus kata2nya mak, tajam dan jujur ヽ(´・`)ノ

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mba, pengen juga bikin puisi seperti ini jadinya, tapinya beraat... hehe

      Delete
  5. Mbaca puisinya, jadi malu aku mbak...
    Thanks for sharing
    Semoga qta semua termasuk hamba yg selalu memperbaiki diri.. aamiin

    ReplyDelete
  6. duh bacanya kok nonjok banget yah T_T

    ReplyDelete
  7. Makasih mba dishare puisinya.. Makjleb banget...

    ReplyDelete
  8. wih puisinya menusuk di jiwa mbak...

    ReplyDelete
  9. indah banget, aku patut belajar sama beliau untuk bisa menulis puisi seindah itu

    ReplyDelete
  10. Selamat Tahun baru... Selamat rumah baru... ^^d
    Aku juga suka banget sama puisi2 beliau... cara bacanya juga keren ya mbak.

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran