Friday, November 20, 2015

KTSP vs Kurtilas

Displaying 20151120_133759.JPG
Displaying 20151120_133759.JPG
Displaying 20151120_133759.JPG
Displaying 20151120_133759.JPGDisplaying 20151120_133759.JPGDisplaying 20151120_133759.JPGPostingan ini akan saya buat dua postingan, maksudnya postingan ini nanti akan ada sambungannya, karena saya pikir masih nyambung dengan tema Kurtilas ini dengan kerja kelompok pertama Farras yang nanti akan saya paparkan.

Di kelas empat ini, Farras baru menerima materi pelajaran dengan menggunakan Kurtilas (Kurikulum Tigabelas). Waktu kelas tiga tahun kemarin, kurikulum yang diterima Farras kurikulum yang lama. Telat banget ya, hari gini masih ngomongin Kurtilas? hehehe.... Mau gimana lagi, lah wong Farras-nya baru menerima Kurtilas di kelas empat ini kok.... :) Dan sekolah Farras termasuk salah satu sekolah yang melanjutkan Kurtilas. Katanya sih, menurut info yang saya dengar, di Serang masih ada tiga sekolah yang menerapkan Kurtilas di sekolahnya. Dua sekolah negeri, satu sekolah swasta. Malah nanti menurut berita yang saya baca, di tahun 2018 pendidikan kita akan menggunakan Kurikulum Nasional. Entah seperti apa.

Yang saya rasakan sebagai orangtua yang anaknya mendapat Kurtilas ini, ada kelebihan dan kekurangannya. Iya... waktu dulu ketika masih heboh-hebohnya tentang Kurtilas, saya gak bisa banyak memberikan komentar, saya hanya bisa mengamati dan membaca berita-berita atau cerita-cerita tentang Kurtilas, tanpa bisa berbicara banyak, karena memang saya belum mengalaminya langsung sebagai orang tua.

Waktu kelas satu sampai kelas tiga, Farras mendapatkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tapi di kelas empat ini, Farras mendapatkan materi pelajaran menggunakan Kurtilas. 
Perbedaan yang saya rasakan sebagai orangtua, bukan sebagai anak yang menerimanya ya... dalam hal ini Farras. Karena Farras sendiri katanya sih merasa enjoy aja dengan kurikulum ini. 
Sewaktu masih menggunakan KTSP, buku-buku yang dibawa Farras setiap harinya sangat banyak. Bayangkan aja, jika sehari ada 3 mata pelajaran, maka buku yang dibawanya diantaranya yaitu buku paket yang tebalnya seperti anak SMA, 3 buku, buku LKS (Lembar Kerja Siswa) 3 buku, buku tulis 3 buku dan satu buku PR. Jadi total buku yang dibawa Farras setiap hari berjumlah 10 buku. Gimana gak berat itu tas? Entah kalau ditimbang berapa kilo beratnya :(

Berbeda dengan Kurtilas ini, setiap hari Farras hanya membawa 1 buku paket, 1 buku LKS dan satu buku tulis. Lebih enteng kan? Karena Kurtilas ini materinya per- tema. Setiap tema di dalamnya ada beberapa mata pelajaran. Seperti matematika, bahasa Indonesia, IPA. Tapi kalau untuk pelajaran bahasa daerah, bahasa Inggris, Agama dan Penjas tetap dipisah ya... tidak disatukan di dalam satu tema. Tema-tema ini khusus hanya untuk materi pelajaran pokok. Dan inilah menurut saya kelemahannya, satu buku disatukan dengan berbagai macam mata pelajaran, membuat anak-anak tidak fokus. Ketika ada materi yang sedang membahas matematika, tapi tiba-tiba harus loncat membahas PKN, misalnya. Ini menurut saya lho ya.... Kalau KTSP kan, tetap fokus, hanya di satu materi saja, tidak lompat-lompat. Tapi untungnya, Farras bisa mengikuti perubahan pemberian materi pelajaran ini. Dia sih seneg-seneng aja.... :) Tapi untuk buku paket ini, Farras setiap harinya membawa 2 buku paket. Satu buku paket yang dibagikan dari pemerintah gratis, satu lagi buku paket yang diusulkan sekolah untuk dipakai. Sementara buku LKS hanya satu saja.

Selain bukunya yang tidak membuat siswa sakit punggung, Kurtilas ini pun menuntut anak untuk terus berkreasi dan bekerja kelompok. Setelah di kelas empat ini, Farras sering mendapat tugas membuat prakarya yang bahan-bahannya dibawa dari rumah, dan membuat prakaryanya di sekolah. Seperti membuat hiasan untuk dibuat sebagai gorden kelas dengan menggunakan gelas plastik bekas, membuat tempat pensil dari bahan-bahan yang bisa di daur ulang, membuat frame dari kardus bekas dll.  Membuat anak bisa menjadi kreatif, jika gurunya kreatif dan rajin. Tapi yang saya sesalkan adalah, adaaa... aja orangtua yang membuatkan prakarya anaknya dari rumah yang membuat hasil dari prakarya otomatis lebih bagus dan lebih rapi. Padahal membuat prakarya anak di sekolah kan agar si anak menjadi mandiri dan kreatif. Mungkin sang orangtua ingin anaknya mendapat nilai yang bagus dari gurunya di sekolah. Tapi ah... biarkan saja :)

Tapi memang, karena Kurtilas inilah saya sebagai orangtua jadi ikut-ikutan sibuk, Ikut sibuk mempersiapkan bahan-bahan dari tugas yang diberikan guru dalam membuat prakarya. Pernah suatu kali Farras mendapat tugas membuat prakarya tapi Farras lupa untuk menyiapkan bahan-bahannya. Farras gak ngomong sama saya. Akibatnya, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat prakarya, Farras tidak punya. Tapi untungnya, dasar Farras, anaknya memang saya lihat bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa bahan-bahan yang dia bawa, akhirnya dia bisa menyelesaikan tugas membuat prakarya tersebut bersama teman-temannya di sekolah.



Displaying IMG_20150926_092621.jpg
~ bersambung ~

29 comments:

  1. izin menyimak dulu ya mbak :) sala kenal mbak dan sukses

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan Mas... salam kenal kembali :) Nanti saya kunbal :)

      Delete
  2. ketika kurtilas ini diterapkan di sekolah tempat saya mengajar, saya keburu resign karena melanjutkan kuliah. jadi saya malah belum terlalu paham amat sih ama kurtilas. pernah mendapat tugas menganalisis kurikulum dari zaman dulu banget sampai k13, tapi tetap saja nggak paham-paham amat. *malah curhat*

    ReplyDelete
  3. belum bisa membayangkan mbak. secara anak saya baru masuk SD ini dan pakainya KTSP. ditunggu kelanjutannya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu waktu anak saya blm Kurtilas juga masih samar2 mba hehe

      Delete
  4. Kurtilas emang merepotkan ya hihi.. Paling enak ya kurikulum pas tahun 90an :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang suka merasa repot sih, soalnya ikut sibuk nyiapin bahan hehe

      Delete
  5. Saya juga love banget kurtilas, Mbak. Sayang sekarang sudah balik ke KTSP

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya malah dari KTSP ke Kurtilas hehe

      Delete
  6. Anakku pernah kurtilas, trus balik ktsp. Ktsp..iya mb, bawaannya bnyk. Sebagai ortu...seneng ktsp mb...nggak loncat2... Klo kurtilas krn serasa ada jarak antar materi...dulu sering lupa. Misal: ketemu matematika di bab 1... Ntar nemu mtk ato itung2an lg bbrp minggu kmdian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. masing2 memang punya kelebihan dan kekurangannya ya..

      Delete
  7. sekarang kurikulumnya beda2 ya, mak. aku yang ngajar les anak sekolah juga bingung. walo kelasnya sama2 kelas 1 smp tapi beda kurikulum akhirnya dipisah deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya La... ada yang sekolahnya pake Kurtilas, ada yang pake KTSP

      Delete
  8. kok gambar-gambarnya gak muncul mba?
    kurikulum makin kesini makin memberatkan anak saja yah

    ReplyDelete
  9. kalo anakku udh sekolah, baru deh aku menghadapi ini semua :D... td sempet bingung baca kurtilas.. hahaha ga pernah dgr sebelumnya ;p..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe... nikmatin aja dulu ketika anak2 blm sekolah mba... :)

      Delete
  10. Seru ya jadi anak-anak belajar untuk lebih kreatif

    ReplyDelete
  11. Kurikulumnya kok begitu ._. gonta-ganti ya mbak :' bikin repot :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebetulnya gak terlalu merepotkan juga sih... tergantung anak dan guru bagaimana cara mempersiapkan dan menghadapinya

      Delete
  12. di sekolah Pascal tetap pakai kurtilas

    ReplyDelete
    Replies
    1. di sekolah Farras juga sekarang semua kelas pakai Kurtilas

      Delete
  13. Membuku buku-buku yang hampir penuh dalam tas memang kasihan anak-anak ya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pa ustadz, kasihan... berat banget :(

      Delete
  14. saya msh jd penonton deh... sambil berdoa smoga pemerintah ga main2 terus dgn kurikulum ini

    ReplyDelete
  15. Banyak banget yaa sistem ajaran sekolah sekarang, makin ribet. Kasihan anak2 sekolah sekarang hahaha

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran