Friday, September 25, 2026

{Cerpen} Senyum Manismu


Setiap pagi aku melewati rumah itu.

Rumah yang sebenarnya biasa saja. Tidak besar, tidak juga kecil. Pagar depannya tidak terlalu tinggi. Di halaman ada beberapa pot tanaman yang tersusun rapi. Ada bunga-bunga kecil, tanaman yang daunnya lebar, dan beberapa pot yang kelihatannya memang dirawat dengan baik.

Tidak ada yang istimewa dari rumah itu.

Setidaknya menurut orang lain.

Tapi bagiku, rumah itu berbeda.

Karena di sanalah aku selalu melihat seorang perempuan.

Perempuan yang hampir setiap pagi berada di halaman rumahnya.

Biasanya ia sedang menyiram tanaman.

Kadang-kadang aku melihatnya sedang membersihkan daun yang kering. Kadang sedang memindahkan pot. Pernah juga kulihat ia hanya duduk di kursi kecil sambil memandangi tanamannya.

Dan setiap kali aku lewat...

Ia tersenyum.

Senyum yang manis.

Tidak lebar.

Tidak dibuat-buat.

Tapi entah kenapa selalu menarik perhatianku.

Awalnya aku tidak terlalu memikirkan hal itu.

Kalau ada orang tersenyum kepada kita, tentu saja kita balas tersenyum. Begitu juga yang kulakukan.

Aku lewat.

Dia tersenyum.

Aku membalas.

Selesai.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Lama-lama aku mulai menunggu senyumnya.

Aku berangkat kerja setiap pagi sekitar jam yang sama. Dan karena melewati jalan yang sama, aku jadi hafal kebiasaan perempuan itu.

Sekitar jam segitu dia biasanya sudah berada di halaman.

Kalau cuaca cerah, hampir pasti aku melihatnya.

Kalau pagi sedang hujan, halaman rumah itu kosong.

Dan kalau suatu pagi dia tidak ada di sana, entah kenapa perjalanan menuju kantor terasa sedikit berbeda.

Aku mulai menyadari sesuatu yang agak memalukan.

Aku mulai mencari-cari dirinya.

Dari kejauhan, aku sudah melihat rumah itu.

Mataku otomatis menuju halaman.

Apakah ada dia, atau tidak?

Kalau ada, aku biasanya tersenyum duluan.

Kalau mata kami bertemu, dia akan membalas senyumku.

Kadang aku mengangkat tangan sedikit sebagai tanda menyapa.

Dia juga melakukan hal yang sama.

Kami tidak pernah benar-benar berbicara.

Tapi anehnya, aku merasa kami sudah saling mengenal.

Setidaknya saling mengenal wajah.

Suatu hari aku pulang kerja lebih sore dari biasanya.

Saat melewati rumah itu, aku melihat seorang perempuan yang lebih tua sedang duduk di teras.

Mungkin ibunya.

Aku memperlambat motor.

"Pagi, Bu."

Lalu aku baru sadar hari sudah sore.

Aku tertawa sendiri.

"Eh, sore, Bu."

Perempuan itu ikut tertawa.

"Sore."

Percakapan kami hanya sebentar.

Aku tidak ingin terlihat seperti sengaja mencari alasan untuk berhenti.

Padahal memang sebenarnya begitu.

Dari dalam rumah, perempuan yang selama ini kulihat di halaman tiba-tiba keluar.

Begitu melihatku, ia tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

Ibunya melihat kami bergantian.

Kemudian tersenyum kecil.

Entah kenapa aku jadi salah tingkah.

Aku pamit dan kembali melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan pulang aku malah memikirkan hal yang tidak-tidak.

Siapa namanya?

Umurnya berapa?

Sudah punya pacar atau belum?

Kenapa setiap pagi selalu menyiram tanaman?

Dan pertanyaan yang paling sering muncul di kepalaku...

Apakah senyum itu memang khusus untukku?

Beberapa hari kemudian aku mulai memberanikan diri.

Tidak banyak.

Aku hanya ingin menyapa.

Mungkin bertanya namanya.

Sesederhana itu.

Tapi entah kenapa rasanya seperti mau menghadapi ujian.

Aku sudah bekerja bertahun-tahun. Bertemu banyak orang. Berbicara dengan atasan, rekan kerja, bahkan klien.

Tapi untuk sekadar bertanya nama seorang perempuan, aku malah gugup.

Lucu juga.

Sampai akhirnya suatu sore aku benar-benar berhenti di depan rumahnya.

Perempuan itu sedang menyiram tanaman.

Ketika melihatku turun dari motor, ia tersenyum.

Senyum yang sudah sangat kukenal.

Aku berjalan mendekat.

"Hai."

Dia tersenyum.

"Kita sering ketemu, ya?"

Dia masih tersenyum.

Aku mulai merasa bodoh.

Tapi aku tetap mencoba.

"Namamu siapa?"

Dia memandangku.

Tidak menjawab.

Aku menunggu.

Mungkin dia tidak mendengar.

Aku bertanya lagi.

"Namamu siapa?"

Kali ini dia menunjuk telinganya.

Kemudian menggeleng.

Aku terdiam.

Untuk beberapa detik aku tidak mengerti.

Lalu perlahan aku mulai paham.

"Oh..."

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Dia tidak bisa mendengar.

Perempuan yang selama ini selalu tersenyum kepadaku ternyata seorang tunarungu.

Aku tidak tahu kenapa perasaan pertama yang muncul justru malu.

Malu pada diriku sendiri.

Selama ini aku selalu mengira dia membalas sapaanku.

Ternyata tidak.

Ketika aku mengangkat tangan sambil berkata "pagi", mungkin dia hanya melihat tanganku.

Ketika aku tersenyum kepadanya, dia mungkin hanya membalas senyumku.

Ketika aku sengaja memperlambat motor melewati rumahnya, dia mungkin bahkan tidak tahu.

Aku jadi teringat semua pagi yang sudah lewat.

Semua sapaan yang pernah kuberikan.

Semua senyum yang pernah kubalas.

Ternyata selama ini kami berada dalam dua dunia yang berbeda.

Aku dengan suara.

Dia tanpa suara.

Tapi anehnya, kami tetap bisa saling menyapa.

Dengan senyum.

Tidak lama kemudian ibunya keluar dari rumah.

Aku mencoba menjelaskan bahwa aku sering lewat di depan rumah mereka.

Ibunya tersenyum.

Kemudian aku tahu nama perempuan itu.

Nara.

Nama yang sederhana.

Entah kenapa aku suka.

Nara.

Ibunya menjelaskan sedikit tentang Nara.

Aku mendengarkan.

Sementara Nara berdiri tidak jauh dari kami.

Ia sesekali melihat ke arahku.

Dan tentu saja...

tersenyum.

Aku kembali tersenyum.

Kemudian Nara mengambil sebuah kertas kecil.

Ia menuliskan sesuatu.

Nara.

Ia menunjukkan tulisan itu kepadaku.

Aku mengangguk.

"Nara."

Aku lalu menulis namaku.

Arga.

Ia membaca.

Kemudian tersenyum.

Aku tertawa kecil.

"Senang kenal kamu, Nara."

Tentu saja dia tidak mendengar.

Tapi mungkin dia mengerti dari ekspresiku.

Atau mungkin tidak.

Yang jelas, dia tetap tersenyum.

Sejak saat itu, aku mulai belajar beberapa bahasa isyarat.

Sedikit-sedikit saja.

Aku belajar dari video di internet.

Awalnya aku bahkan bingung membedakan beberapa gerakan.

Sering salah.

Kadang aku mencoba mempraktikkannya ketika bertemu Nara.

Kalau benar, dia mengangguk.

Kalau salah, dia tertawa.

Aku juga ikut tertawa.

Ternyata belajar bahasa isyarat tidak semudah yang kubayangkan.

Tapi aku menikmatinya.

Bukan karena aku merasa harus.

Aku hanya ingin bisa berbicara dengannya.

Dengan caranya.

Aku belajar mengatakan "selamat pagi".

Belajar mengatakan "apa kabar".

Belajar memperkenalkan nama.

Belajar mengucapkan "terima kasih".

Dan ada satu kata yang paling sering kulatih.

"Senyum."

Entah kenapa aku ingin tahu bagaimana mengatakan kata itu kepadanya.

Mungkin karena senyumnya adalah hal pertama yang membuatku memperhatikannya.

Hubungan kami sebenarnya masih sederhana.

Aku tetap bekerja.

Ia tetap mengurus tanaman di rumahnya.

Aku lewat setiap pagi.

Ia tersenyum.

Kadang kami saling menyapa dengan bahasa isyarat.

Kadang hanya saling melambaikan tangan.

Tidak ada yang istimewa.

Tapi bagiku cukup.

Sampai suatu pagi aku tidak melihat Nara di halaman.

Aku melewati rumahnya.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku melanjutkan perjalanan.

Tapi entah kenapa sepanjang jalan aku merasa ada sesuatu yang hilang.

Aku baru sadar ternyata aku sudah terbiasa melihatnya.

Terbiasa dengan senyum itu.

Terbiasa dengan sosoknya yang sibuk menyiram tanaman.

Hari itu aku bekerja seperti biasa.

Tapi beberapa kali pikiranku kembali ke rumah itu.

Apa dia sakit?

Atau sedang pergi?

Aku bahkan merasa konyol karena memikirkan seseorang yang sebenarnya belum terlalu kukenal.

Sore harinya, ketika pulang kerja, aku sengaja melewati jalan itu lebih pelan.

Dan ternyata...

Nara ada di halaman.

Sedang menyiram tanaman.

Begitu melihatku, ia tersenyum.

Aku berhenti.

Aku ikut tersenyum.

Lalu menunjukkan bahasa isyarat yang sudah kupelajari.

Senang melihatmu.

Nara tampak berpikir sebentar.

Kemudian wajahnya berubah cerah.

Ia tersenyum lebih lebar.

Aku tidak tahu apakah gerakanku tadi benar.

Tapi sepertinya dia mengerti.

Dan entah kenapa, sore itu aku merasa sangat bahagia.

Sejak hari itu aku mulai berpikir.

Mungkin aku memang menyukai Nara.

Bukan karena dia cantik.

Bukan karena dia selalu ada di halaman.

Bukan juga karena senyumnya manis.

Aku menyukainya karena ada sesuatu yang sederhana dari dirinya yang membuatku nyaman.

Aku tidak perlu menjadi orang lain ketika berada di dekatnya.

Aku tidak perlu mencari bahan pembicaraan.

Aku tidak perlu berpura-pura menjadi seseorang yang menarik.

Kadang kami hanya saling melihat.

Lalu tersenyum.

Sudah.

Dan ternyata itu cukup.

Suatu pagi, seperti biasa, aku melewati rumah Nara.

Ia sedang menyiram tanaman.

Aku menghentikan motor sebentar.

Nara menoleh.

Aku mengangkat tangan.

Memberinya salam dengan bahasa isyarat.

Ia membalas.

Aku tersenyum.

Ia tersenyum.

Aku lalu menunjuk ke arah tanaman.

Kemudian memberi isyarat yang sudah kupelajari beberapa hari sebelumnya.

Indah.

Nara melihat tanamannya.

Kemudian melihatku.

Ia tersenyum.

Aku tidak tahu apakah yang ia maksud indah adalah tanamannya.

Atau pagi itu.

Atau mungkin...

entahlah.

Aku tidak mau terlalu banyak berharap.

Aku kembali menyalakan motor.

Sebelum pergi, aku menoleh sekali lagi.

Nara masih berdiri di sana.

Masih dengan senyum yang sama.

Senyum yang dulu membuatku penasaran.

Senyum yang kemudian membuatku berhenti.

Senyum yang membuatku belajar bahasa yang sebelumnya tidak pernah kupahami.

Dan baru sekarang aku mengerti...

ternyata aku tidak membutuhkan suaranya untuk jatuh hati kepadanya.

Aku hanya membutuhkan senyumnya.

Sebab dari sekian banyak suara yang pernah kudengar dalam hidupku...

entah kenapa,

senyum manismu adalah satu-satunya yang paling ingin terus kuingat.

No comments:

Post a Comment

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran