Friday, October 09, 2026

Etika Bertetangga : Jangan Sampai Tetangga Tidak Merasa Aman dan Nyaman dengan Kita



Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 36 yang artinya:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk tidak menyekutukan-Nya dan juga memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada banyak pihak, salah satunya adalah tetangga. Tetangga adalah orang yang mungkin paling sering kita temui setelah keluarga sendiri. Bisa jadi kita tidak terlalu dekat, jarang mengobrol, bahkan mungkin tidak tahu banyak tentang kehidupan mereka. Tetapi rumah kita berdampingan dengan rumah mereka.

Kita mungkin tidak mengenal mereka dengan baik, tetapi suara dari rumah kita bisa sampai ke rumah mereka. Aroma dari rumah kita bisa sampai ke rumah mereka, asap dari aktivitas kita bisa masuk ke rumah mereka. Bahkan kebiasaan kecil yang menurut kita biasa saja, bisa jadi cukup mengganggu bagi orang lain. Karena itulah, urusan bertetangga sebenarnya bukan perkara sepele.

Wednesday, October 07, 2026

Kalau Hutan Bisa Bicara, Mungkin Ia Akan Berkata: “Tolong, Jangan Rusak Aku”


Andai hutan bisa bicara, kira-kira apa yang akan dikatakannya kepada kita?

Mungkin ia tidak akan marah.

Mungkin juga tidak akan menyalahkan siapa-siapa.

Barangkali ia hanya akan berkata pelan,

“Tolong, jangan rusak aku.”

Sederhana sekali kalimatnya.

Tetapi kalau kita mau berhenti sebentar dan memikirkannya, kalimat itu terasa cukup dalam.

Karena hutan sudah begitu banyak memberikan sesuatu untuk kehidupan kita. Udara yang kita hirup, air yang kita butuhkan, tanah yang kita pijak, sampai berbagai hasil hutan yang bisa memberikan penghidupan bagi banyak orang.

Hutan memberi tanpa banyak meminta.

Lalu apa yang kita lakukan kepadanya?

Sebagian dari kita mungkin menjaganya.

Sebagian lagi mungkin tidak peduli.

Dan sebagian lainnya justru mengambil manfaat dari hutan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Friday, September 25, 2026

{Cerpen} Senyum Manismu


Setiap pagi aku melewati rumah itu.

Rumah yang sebenarnya biasa saja. Tidak besar, tidak juga kecil. Pagar depannya tidak terlalu tinggi. Di halaman ada beberapa pot tanaman yang tersusun rapi. Ada bunga-bunga kecil, tanaman yang daunnya lebar, dan beberapa pot yang kelihatannya memang dirawat dengan baik.

Tidak ada yang istimewa dari rumah itu.

Setidaknya menurut orang lain.

Tapi bagiku, rumah itu berbeda.

Karena di sanalah aku selalu melihat seorang perempuan.

Perempuan yang hampir setiap pagi berada di halaman rumahnya.

Biasanya ia sedang menyiram tanaman.

Kadang-kadang aku melihatnya sedang membersihkan daun yang kering. Kadang sedang memindahkan pot. Pernah juga kulihat ia hanya duduk di kursi kecil sambil memandangi tanamannya.

Dan setiap kali aku lewat...

Wednesday, September 23, 2026

{Cerpen} Dua Cangkir Kopi


Perempuan itu setiap Minggu pagi selalu ke kedai kopi, sama seperti aku. Kedai kopi yang sama,  seperti aku. Datang tepat jam 9 pagi, seperti aku. Menempati tempat duduk yang sama, seperti aku. Bedanya, perempuan itu selalu memesan 2 cangkir kopi hitam, walaupun dia datang sendirian. Sementara aku hanya memesan 1 cangkir kopi hitam karena memang aku selalu datang sendiri.

Seperti basanya, aku datang ke kedai kopi ini, di hari Minggu  tepat jam 9 pagi. Aku duduk di tempat biasanya, di pojokan. Memesan kopi, lalu langsung duduk sambil menunggu kopi datang. Tak berselang lama, pintu kedai kopi berbunyi "Ting", tanda ada yang datang. Aku mengalihkan pandanganku dari gawai yang sedang aku pegang menuju pintu yang berbunyi tadi. Perempuan itu yang datang.

Wednesday, September 16, 2026

{Flash Fiction} Kopi dan Kursi Kosong di Sebelahnya


Perempuan itu setiap Minggu pagi selalu ke kedai kopi, sama seperti aku. Kedai kopi yang sama,  seperti aku. Datang tepat jam 9 pagi, seperti aku. Menempati tempat duduk yang sama, seperti aku. Bedanya, perempuan itu selalu memesan 2 cangkir kopi hitam, walaupun dia datang sendirian. Sementara aku hanya memesan 1 cangkir kopi hitam karena memang aku selalu datang sendiri.

Seperti basanya, aku datang ke kedai kopi ini, di hari Minggu  tepat jam 9 pagi. Aku duduk di tempat biasanya, di pojokan. Memesan kopi, lalu langsung duduk sambil menunggu kopi datang. Tak berselang lama, pintu kedai kopi berbunyi "Ting", tanda ada yang datang. Aku mengalihkan pandanganku dari gawai yang sedang aku pegang menuju pintu yang berbunyi tadi. Perempuan itu yang datang.

Dia memesan 2 cangkir kopi hitam seperti biasanya, dan mendekati tempat duduk yang biasanya dia duduki.