Friday, September 25, 2026

{Cerpen} Senyum Manismu


Setiap pagi aku melewati rumah itu.

Rumah yang sebenarnya biasa saja. Tidak besar, tidak juga kecil. Pagar depannya tidak terlalu tinggi. Di halaman ada beberapa pot tanaman yang tersusun rapi. Ada bunga-bunga kecil, tanaman yang daunnya lebar, dan beberapa pot yang kelihatannya memang dirawat dengan baik.

Tidak ada yang istimewa dari rumah itu.

Setidaknya menurut orang lain.

Tapi bagiku, rumah itu berbeda.

Karena di sanalah aku selalu melihat seorang perempuan.

Perempuan yang hampir setiap pagi berada di halaman rumahnya.

Biasanya ia sedang menyiram tanaman.

Kadang-kadang aku melihatnya sedang membersihkan daun yang kering. Kadang sedang memindahkan pot. Pernah juga kulihat ia hanya duduk di kursi kecil sambil memandangi tanamannya.

Dan setiap kali aku lewat...

Wednesday, September 23, 2026

{Cerpen} Dua Cangkir Kopi


Perempuan itu setiap Minggu pagi selalu ke kedai kopi, sama seperti aku. Kedai kopi yang sama,  seperti aku. Datang tepat jam 9 pagi, seperti aku. Menempati tempat duduk yang sama, seperti aku. Bedanya, perempuan itu selalu memesan 2 cangkir kopi hitam, walaupun dia datang sendirian. Sementara aku hanya memesan 1 cangkir kopi hitam karena memang aku selalu datang sendiri.

Seperti basanya, aku datang ke kedai kopi ini, di hari Minggu  tepat jam 9 pagi. Aku duduk di tempat biasanya, di pojokan. Memesan kopi, lalu langsung duduk sambil menunggu kopi datang. Tak berselang lama, pintu kedai kopi berbunyi "Ting", tanda ada yang datang. Aku mengalihkan pandanganku dari gawai yang sedang aku pegang menuju pintu yang berbunyi tadi. Perempuan itu yang datang.

Wednesday, September 16, 2026

{Flash Fiction} Kopi dan Kursi Kosong di Sebelahnya


Perempuan itu setiap Minggu pagi selalu ke kedai kopi, sama seperti aku. Kedai kopi yang sama,  seperti aku. Datang tepat jam 9 pagi, seperti aku. Menempati tempat duduk yang sama, seperti aku. Bedanya, perempuan itu selalu memesan 2 cangkir kopi hitam, walaupun dia datang sendirian. Sementara aku hanya memesan 1 cangkir kopi hitam karena memang aku selalu datang sendiri.

Seperti basanya, aku datang ke kedai kopi ini, di hari Minggu  tepat jam 9 pagi. Aku duduk di tempat biasanya, di pojokan. Memesan kopi, lalu langsung duduk sambil menunggu kopi datang. Tak berselang lama, pintu kedai kopi berbunyi "Ting", tanda ada yang datang. Aku mengalihkan pandanganku dari gawai yang sedang aku pegang menuju pintu yang berbunyi tadi. Perempuan itu yang datang.

Dia memesan 2 cangkir kopi hitam seperti biasanya, dan mendekati tempat duduk yang biasanya dia duduki.

Tuesday, September 15, 2026

{Flash Fiction} Jemuran di Depan Rumah


Aku adalah penghuni baru di komplek ini. Baru sekitar sepekan menempati rumah ini. Rumah yang aku beli dengan cara menyicil. Aku memang belum sempat menyambangi tetangga-tetanggaku untuk mengenalkan diri sekaligus bersilaturahmi. Aku hanya sempat lapor pada ketua RT di komplekku.

Selama sepekan ini, aku perhatikan depan rumahku selalu sepi. Hanya ada jemuran yang setiap harinya  baju yang dijemurnya selalu sama. Kemeja putih, celana panjang hitam, daster bunga-bunga dan handuk berwarna cokelat.

Monday, September 14, 2026

Debu, Angin dan Musim Kemarau



Musim kemarau tiba

Membuat daun-daun merunduk perlahan

Menguning.... lalu mati


Musim kemarau membawa debu

Beterbangan, menempel pada kaki-kaki manusia

yang sedang sibuk mengejar dunia

Tuesday, September 08, 2026

Teh Kopi: Ketika Kopi Bertemu Teh


Saya suka kopi.
Saya juga suka teh.

Kalau ditanya lebih suka yang mana, rasanya saya tidak bisa memilih. Tergantung suasana hati. Kadang pagi-pagi rasanya ingin secangkir kopi panas, tetapi di waktu lain teh manis hangat justru terasa lebih nikmat. Karena itu, ketika suatu hari saya menemukan sebuah minuman yang menggabungkan kopi dan teh, tentu saja saya langsung penasaran.

Waktu itu saya sedang berada di sebuah tempat semacam kafe. Saya lupa persis apa nama minuman yang saya pesan, tetapi yang saya ingat adalah di dalam menu ada minuman kopi yang diberi tambahan teh.

Kopi dicampur teh?

Wah, bagaimana rasanya?

Sebagai penyuka kopi sekaligus teh, saya tentu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencoba. Selama ini saya biasa menikmati keduanya secara terpisah. Kopi ya kopi, teh ya teh. Belum pernah terpikir untuk menyatukannya dalam satu cangkir.

Akhirnya saya pesan.

Dan ternyata...

Enak!

Ada rasa kopi yang tetap terasa, tetapi kemudian muncul aroma dan rasa khas teh yang membuat minuman ini menjadi berbeda. Rasanya seperti mendapatkan dua kesukaan sekaligus dalam satu cangkir.

Sejak saat itu saya jadi tahu, ternyata kopi dicampur teh itu tidak aneh sama sekali. Malah bisa jadi teman ngopi yang menyenangkan.