Ajaran baru tahun 2018/2019 sudah dimulai sejak bulan Juli kemarin. Ada cerita lebih tepatnya mungkin dilema dalam mencari sekolah Farras selepas SD-nya dalam keluarga kami yang belum saya tulis untuk saya share pada teman-teman semua.
 |
| waktu melihat-lihat MTsN |
Saat itu, jauh sebelum Farras akan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional), saya, suami dan Farras sudah membicarakan tentang SMP man yang akan kami pilih untuk Farras nanti. Saya menawarkan pesantren. Saya lebih sreg Farras masuk pesantren. Selain ilmu dunia yang Farras dapatkan, ilmu untuk bekal akhirat pun akan Farras peroleh, itu pemikiran saya saat itu. Suami pun setuju walaupun sepertinya tidak 100%. Suami berpikir, bagaimana kalau Farras sakit, bagaimana kalau Farras ada yang membully, menyakitinya secara fisik dan psikis. Sementara para pengajar disana pastinya tidak akan bisa 100% mengawasi para santri yang segitu banyaknya, walaupun mungkin setiap kamar yang dihuni oleh santri ada satu penanggung jawab dari piahk pesantren. Namun tetap kami khawatir para penanggung jawab tersebut tidak bisa memantau secara maksimal. Bukannya kami tidak percaya pada pihak pesantren, namun dibanding orang tua pasti akan lebih intens dalam memantau anak-anaknya. Begitu pertimbangan kami saat itu. Walaupun ada pula pertimbangan lain yang cenderung berat pada pesantren, yaitu Farras pasti bisa berkembang dengan pesat jika di pesantren. Farras akan lebih mandiri, Farras yang cenderung senang berteman dan mudah bersosialisasi pastinya akan merasa senang dan nyaman berada di lingkungan pesantren yang banyak orang. Bisa saya bayangkan bagaimana Farras bisa berekspresi dan mengeksplor pengalaman barunya di pesantren. Kamar yang dihuni oleh pastinya lebih dari 5 orang, yang akan membuat Farras antusias, ngobrol sana sini, diskusi dan saling bekerja sama. Tapi memang jika teman-teman sekamarnya bisa kompak dan tidak ada yang 'aleman'. Saya dan suami sudah memikirkan hal itu, panjaaaang......