Wednesday, September 23, 2026

Dua Cangkir Kopi


Perempuan itu setiap Minggu pagi selalu ke kedai kopi, sama seperti aku. Kedai kopi yang sama,  seperti aku. Datang tepat jam 9 pagi, seperti aku. Menempati tempat duduk yang sama, seperti aku. Bedanya, perempuan itu selalu memesan 2 cangkir kopi hitam, walaupun dia datang sendirian. Sementara aku hanya memesan 1 cangkir kopi hitam karena memang aku selalu datang sendiri.

Seperti basanya, aku datang ke kedai kopi ini, di hari Minggu  tepat jam 9 pagi. Aku duduk di tempat biasanya, di pojokan. Memesan kopi, lalu langsung duduk sambil menunggu kopi datang. Tak berselang lama, pintu kedai kopi berbunyi "Ting", tanda ada yang datang. Aku mengalihkan pandanganku dari gawai yang sedang aku pegang menuju pintu yang berbunyi tadi. Perempuan itu yang datang.

Dia memesan 2 cangkir kopi hitam seperti biasanya, dan mendekati tempat duduk yang biasanya dia duduki.

Kopi milikku datang, tak berapa lama kopi milik perempuan itu pun datang. 2 cangkir. satu diletakkan di depan perempuan itu, satunya lagi diletakkan di sebelahnya, seperti ada dua orang yang sedang memesan kopi, seperti biasanya. Awalnya aku heran. Tapi lama kelamaan, aku memilih masa bodoh, bukan urusanku pikirku. Ada satu hal lagi, perempuan itu hanya menghabiskan satu cangkir kopi saja. Satu cangkir kopi yang lainnya dia biarkan begitu saja.

Kali ini, pelayan yang mengantarkan kopi untuk perempuan itu sepertinya penasaran, kenapa perempuan itu selalu memesan 2 cangkir kopi, sementara dia hanya datang sendirian. Aku memerhatikan gerak-gerik pelayan tersebut, lalu aku pun mencoba menguping apa yang pelayan itu bicarakan. Pelayan bertanya, "Maaf Bu, kopi satunya untuk siapa? Setiap kali Ibu kesini, selalu memesan 2 cangkir kopi, sementara Ibu hanya meminumnya 1 cangkir." Perempuan itu hanya tersenyum. Pelayan meninggalkannya tanpa ada jawaban.

Aku masih memerhatikan perempuan itu, sambil menghabiskan kopi ku. Tak berapa lama, perempuan itu berdiri dari duduknya, sepertinya dia sudah selesai. Tapi kopi di sebelahnya tidak dia sentuh sama sekali. Dan ketika perempuan itu berdiri, menggeser kursi tempat duduknya, kursi di sebelahnya pun ikut bergeser.

Aku terdiam. Terpaku.

Tanganku yang tadi hendak memasukkan ponsel ke dalam saku berhenti di udara. Mataku tertuju pada kursi kosong di sebelah perempuan itu.

Mungkin aku salah lihat.

Mungkin kaki kursi itu memang tersenggol ketika perempuan itu menggeser kursinya.

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.

Perempuan itu berjalan menuju kasir. Sesekali dia menoleh ke belakang, tepat ke arah kursi yang baru saja ditinggalkannya.

Kemudian dia berkata kepada pelayan,

“Seperti biasa.”

Pelayan mengangguk.

Perempuan itu membayar, lalu berjalan keluar.

Ting...

Pintu kedai kembali berbunyi.

Aku masih duduk di tempatku. Masih diam terpaku.

Tiba-tiba ada perasaan aneh menyergap perasaan dan pikiranku. Perasaan aneh yang tidak bisa aku jelaskan. Perasaan dan pikiran yang mengganggu.

Aku menoleh ke meja perempuan tadi.

Dua cangkir kopi masih ada di sana.

Satu kosong.

Satu lagi masih utuh.

Aku tidak tahu kenapa, tetapi untuk pertama kalinya aku merasa ingin tahu.

Aku berdiri dan berjalan mendekati meja itu.

“Mas?”

Pelayan yang tadi mengantarkan kopi menghampiriku.

“Ya, Pak?”

“Boleh saya tanya?”

“Tanya apa, Pak?”

Aku menunjuk meja perempuan tadi.

“Perempuan itu... siapa?”

Pelayan memandang ke arah meja tersebut.

Kemudian dia tersenyum kecil.

“Bu Clara?”

Aku mengangguk. Walaupun aku tidak tahu nama perempuan itu.

“Sudah lama datang ke sini?” Aku lanjut bertanya.

“Sudah lama, Pak. Satu tahunan.”

“Setiap Minggu?” Tanyaku lagi.

“Setiap Minggu.”

“Jam sembilan?”

Pelayan mengangguk.

“Jam sembilan tepat.” Lanjutnya.

Aku terdiam sebentar.

“Dan selalu pesan dua kopi?” Aku meneruskan rasa penasaranku.

Kali ini pelayan tidak langsung menjawab.

Dia mengelap meja dengan kain yang ada di tangannya.

“Iya.”

“Kenapa?” Masih dengan rasa penasaranku.

Pelayan menghela napas.

“Saya juga pernah penasaran.” Tambah Si pelayan.

“Lalu?”

“Pernah saya tanyakan.”

Aku tersenyum.

“Tadi saya dengar.”

Pelayan ikut tersenyum.

“Sebelumnya, teman saya pun ada yang pernah bertanya. Tapi Ibu Clara tidak pernah menjawab.”

Aku melihat kembali meja itu.

“Suaminya?”

Pelayan menggeleng.

“Anaknya?”

Gelengan kepala lagi.

“Temannya?”

Pelayan terdiam cukup lama.

Kemudian dia berkata pelan,

“Dulu dia datang ke sini berdua.”

Aku mulai memperhatikan.

“Dengan siapa?”

“Dengan suaminya.”

“Dulu?”

“Iya.”

Pelayan meletakkan kain lapnya.

“Suaminya meninggal satu tahun yang lalu.”

Aku terdiam.

“Sejak itu?”

“Sejak itu, setiap Minggu pagi Bu Clara datang sendiri.”

Aku melihat dua cangkir kopi yang masih berada di meja.

“Dan memesan dua cangkir?”

“Iya.”

“Untuk mengenang suaminya?”

Pelayan mengangkat bahu.

“Mungkin.”

Aku kembali ke tempat dudukku.

Pikiranku mulai dipenuhi berbagai dugaan.

Mungkin perempuan itu belum bisa menerima kepergian suaminya.

Mungkin dia sengaja memesan dua cangkir untuk mengenang kebiasaan lama.

Sederhana.

Masuk akal.

Aku mencoba melupakan kejadian tadi.

Terutama tentang kursi yang ikut bergeser.

Mungkin memang hanya kebetulan.

Minggu berikutnya aku kembali ke kedai kopi itu.

Jam sembilan tepat.

Seperti biasa.

Aku duduk di pojokan.

Memesan satu kopi hitam.

Dan beberapa menit kemudian...

Ting... Bunyi pintu kedai. Aku melihat ke arah pintu.

Perempuan itu datang.

Bu Clara.

Dia berjalan seperti biasa.

Memesan dua cangkir kopi hitam.

Lalu duduk di tempat biasanya.

Aku diam-diam memperhatikannya.

Satu cangkir diminumnya perlahan.

Cangkir yang satunya lagi tetap berada di sebelahnya.

Aku mulai terbiasa dengan pemandangan itu.

Sampai sesuatu terjadi.

Saat Bu Clara hendak mengambil gula, tangannya tiba-tiba berhenti.

Dia menatap kursi kosong di sebelahnya.

Lalu tersenyum.

Bukan senyum sedih.

Bukan pula senyum yang dibuat-buat.

Senyum seseorang yang sedang melihat orang yang sangat dia kenal.

Aku mengikuti arah pandangannya.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya kursi kosong.

Aku menelan ludah.

Bu Clara kemudian berkata,

“Maaf ya, Mas. Minggu ini terlambat.”

Aku membeku.

Dia jelas sedang berbicara kepada seseorang.

Tapi siapa?

Aku menatap kursi kosong itu.

Tidak ada apa-apa. Dan tidak ada siapa-siapa.

Bu Clara kemudian tertawa kecil.

“Macet?”

Aku mulai merasa tidak nyaman.

Pelayan datang membawa makanan.

Bu Clara kembali diam.

Aku berusaha mengalihkan pandangan.

Namun beberapa detik kemudian...

Kursi di sebelah Bu Clara bergerak.

Pelan.

Sedikit saja.

Seperti seseorang baru saja duduk di atasnya.

Aku merinding.

Kali ini aku yakin.

Aku tidak salah lihat.

Bu Clara tersenyum.

Dia mengambil cangkir kopi yang kedua.

Lalu menggesernya sedikit ke arah kursi kosong.

“Masih seperti dulu,” katanya.

“Pahit.”

Aku tidak sanggup lagi berpura-pura tidak melihat.

Aku berdiri dan berjalan mendekatinya.

“Bu...”

Bu Clara menoleh.

“Ya?”

Aku menunjuk kursi kosong di sebelahnya.

“Maaf, boleh saya tanya sesuatu?”

Dia tersenyum.

“Silakan.”

“Sebenarnya... siapa yang duduk di situ? Maaf, tadi saya memerhatikan Ibu seperti sedang berbicara dengan seseorang”.

Bu Clara terdiam.

Untuk beberapa saat, suara kedai kopi terasa menghilang.

Dia memandang kursi di sebelahnya.

Lalu menatapku.

“Suami saya.”

Aku mengangguk pelan.

“Yang sudah meninggal?”

Bu Clara tersenyum.

“Iya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Suami Ibu sering datang ke sini?”

“Dulu.”

“Setiap Minggu?”

“Setiap Minggu.”

“Jam sembilan?”

“Jam sembilan tepat.”

Aku menatap cangkir kopi di hadapan kursi kosong itu.

“Dan sekarang Ibu masih memesankan kopi untuk beliau?”

Bu Clara mengangguk.

“Bukan untuk beliau.”

Aku mengernyit.

“Lalu untuk siapa?”

Bu Clara tersenyum.

“Untuk saya yang masih menunggu.”

Aku tidak mengerti.

Dia menarik napas panjang.

“Lebih dari satu tahun lalu, suami saya meninggal di perjalanan menuju tempat ini.”

Aku terdiam.

“Setiap Minggu kami selalu datang ke sini. Saya pesan kopi hitam. Dia juga kopi hitam.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Pagi itu kami bertengkar.”

Aku tidak menyela.

“Hal kecil.”

Dia tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Saya bahkan tidak ingat apa yang kami pertengkarkan.”

Dia mengusap pipinya.

“Yang saya ingat, sebelum berangkat dia bilang, ‘Nanti kita lanjutkan di kedai kopi.’”

Aku menatapnya.

“Tapi dia tidak pernah sampai.”

Hening.

“Sejak hari itu, saya selalu datang ke sini.”

Dia menunjuk kursi di sebelahnya.

“Karena saya masih punya percakapan yang belum selesai. Saya khawatir pertengkaran kecil kami saat itu disebabkan oleh kesalahan saya. Ada sedikit rasa bersalah, kenapa permasalahan kami tidak saat itu saja langsung diselesaikan”.

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

“Lalu... kursi itu?”

Bu Clara menatap kursi kosong tersebut.

“Saya tidak tahu.”

Dia tersenyum tipis.

“Kadang saya merasa dia benar-benar duduk di sana.”

Aku menatap kursi itu lagi.

Kali ini kursi itu diam.

Bu Clara mengambil cangkir kopinya.

“Kadang kursinya bergerak sendiri.”

Aku mencoba tersenyum.

“Mungkin karena lantainya miring.”

Bu Clara tertawa.

“Mungkin.”

Kemudian dia menatapku.

“Tapi saya tidak peduli apakah itu benar atau tidak.”

“Kenapa?”

“Karena selama saya masih bisa membayangkan dia duduk di sana, saya bisa mengatakan sesuatu yang belum sempat saya katakan.”

Aku diam.

“Apa itu?”

Bu Clara memandang cangkir kopi di sebelahnya.

“Maaf.”

Dia tersenyum.

“Dan terima kasih.”

Aku menundukkan kepala.

Entah kenapa, dua kata sederhana itu terasa sangat berat.

Bu Clara kemudian berdiri.

Seperti minggu-minggu sebelumnya.

Dia menggeser kursinya.

Dan sekali lagi...

Kursi di sebelahnya ikut bergeser.

Kali ini aku melihatnya dengan jelas.

Tidak ada tangan.

Tidak ada siapa-siapa.

Kursi itu bergeser perlahan ke belakang.

Seolah seseorang baru saja berdiri.

Bu Clara melihatnya.

Aku melihatnya.

Kami saling berpandangan.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Kemudian Bu Clara tersenyum.

“Dia pamit.”

Aku hanya bisa mengangguk.

Bu Clara berjalan menuju pintu.

Ting...

Pintu kedai berbunyi.

Dia pergi.

Aku masih berdiri di sini.

Menatap kursi kosong itu.

Untuk beberapa saat, aku merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dada.

Bukan takut.

Melainkan sedih.

Pelayan datang menghampiriku.

“Pak?”

Aku menoleh.

“Iya?”

“Bapak tidak apa-apa?”

Aku mengangguk.

“Tidak.”

Aku kembali ke tempat dudukku.

Kopi hitamku sudah hampir habis.

Aku menatap cangkir di depanku.

Lalu tanpa sadar, aku berkata pelan,

“Kalau ada sesuatu yang belum sempat kau katakan kepada seseorang... jangan tunggu terlalu lama.”

Pelayan menatapku bingung.

Aku tersenyum.

Kemudian memanggilnya.

“Mas.”

“Ya, Pak?”

“Boleh pesan satu kopi lagi?”

Pelayan tersenyum.

“Untuk siapa, Pak?”

Aku menatap kursi kosong di hadapanku.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak merasa datang sendirian.

“Untuk seseorang yang mungkin akan datang terlambat.”

Pelayan pergi.

Aku menuju kasir.

Ting...

Pintu kedai kembali berbunyi seiring aku pergi meninggalkan kedai kopi langgananku.

Biarkanlah kopi yang sudah aku pesan barusan menjadi pemilik kursi kosong di depanku tadi.


No comments:

Post a Comment

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran