Monday, September 07, 2026

Tradisi Muludan di Kampung Saya, Benggala Neglasari Serang : Meriah dengan Panjang Mulud, Dzikir, dan Sholawatan


Setiap tahun, bulan Rabiul Awal selalu menjadi bulan yang istimewa bagi masyarakat Muslim di berbagai daerah. Begitu pun di Kota Serang, Banten. Salah satu tradisi yang masih terasa begitu kuat adalah *Muludan*, sebuah perayaan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Di Kampung saya, Benggala, Neglasari, Serang-Banten, tradisi Muludan dirayakan dengan suasana yang penuh semangat, kebersamaan, dan kemeriahan. Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah *panjang mulud* yang dibuat dalam berbagai bentuk dan dihias dengan beraneka macam makanan ringan serta sembako.

Kemeriahan Panjang Mulud

Panjang mulud menjadi salah satu ciri khas yang tidak terpisahkan dari perayaan Muludan di Banten. Masyarakat mempersiapkannya dengan penuh antusias. Berbagai makanan ringan, minuman, sembako, hingga aneka barang kebutuhan disusun dan dihias sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah bentuk yang menarik.

Di kampung saya, panjang mulud bukan sekadar hiasan. Di dalamnya terdapat semangat gotong royong, berbagi, dan kebersamaan. Setiap keluarga maupun kelompok masyarakat dapat membuat panjang mulud dengan kreativitas masing-masing dan sesuai kemampuan tanpa ada keharusan.

Semakin mendekati hari pelaksanaan, suasana kampung pun semakin ramai. Panjang mulud yang telah selesai dibuat kemudian dipersiapkan untuk diarak menuju masjid.

Suara Petasan Membuka Kemeriahan

Ada satu hal yang menjadi bagian menarik dari kemeriahan Muludan di kampung ini. Sebelum panjang mulud mulai diarak, suasana biasanya diawali dengan suara petasan yang sangat keras.

Suara ledakan petasan menjadi semacam tanda bahwa acara panjang mulud baru saja dimulai . Suaranya menggelegar dan terdengar di sekitar kampung, membuat suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi ramai dan penuh antusiasme.

Bagi masyarakat yang sudah lama mengenal tradisi ini, suara tersebut menjadi salah satu kenangan khas dari kemeriahan Muludan. Meski demikian, penggunaan petasan tentu perlu memperhatikan *keamanan, lingkungan sekitar, serta anak-anak dan warga yang berada di dekat lokasi*.

Panjang Mulud Diarak dengan Iringan Rebana


Setelah kemeriahan pembuka, panjang mulud kemudian diarak menuju masjid.

Yang membuat prosesi semakin meriah adalah kehadiran *tim rebana*. Tabuhan rebana dan lantunan sholawat mengiringi perjalanan panjang mulud menuju masjid.

Suasana menjadi semakin semarak. Masyarakat keluar rumah untuk melihat arak-arakan. Anak-anak tampak antusias, sementara orang-orang dewasa mengikuti prosesi dengan penuh suka cita.

Panjang mulud yang dihias dengan warna-warni makanan dan berbagai barang tampak semakin menarik ketika dibawa bersama-sama menuju masjid.

Di sinilah terasa bahwa Muludan bukan hanya sebuah acara keagamaan, tetapi juga menjadi *momen berkumpulnya masyarakat dalam suasana penuh kekeluargaan*.

Ngeriung di Masjid

Sesampainya di masjid, masyarakat kemudian *ngeriung*, duduk dan berkumpul bersama. Tradisi ngeriung ini menghadirkan suasana yang hangat dan akrab.

Tidak ada sekat antara satu warga dengan warga lainnya. Semua berkumpul dalam satu tempat untuk mengikuti rangkaian kegiatan Muludan.

Panjang mulud yang sebelumnya diarak kemudian ditempatkan di sekitar masjid. Setelah rangkaian acara selesai, isi panjang mulud biasanya dibagikan dan dinikmati bersama.

Nilai kebersamaan inilah yang membuat tradisi tersebut begitu berkesan. Apa yang dibawa oleh masing-masing warga pada akhirnya menjadi bagian dari kebahagiaan bersama.

Dzikir dan Sholawatan

Di tengah kemeriahan tersebut, inti dari perayaan tetaplah kegiatan keagamaan.

Masyarakat bersama-sama mengikuti *dzikir dan sholawatan* untuk mengenang dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Suara lantunan sholawat yang menggema di dalam masjid menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus mengharukan.

Kemeriahan di luar masjid berpadu dengan kekhusyukan di dalam masjid. Ada suara rebana, canda dan kebersamaan masyarakat, tetapi juga ada lantunan dzikir dan sholawat yang mengingatkan kembali pada makna utama perayaan Muludan.

Lebih dari Sekadar Perayaan

Tradisi Muludan di Kampung Neglasari Benggala menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga.

*Panjang mulud mengajarkan berbagi, arak-arakan menghadirkan kebersamaan, ngeriung mempererat silaturahmi, sedangkan dzikir dan sholawatan mengingatkan kembali pada kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.*

*Panjang mulud mengajarkan berbagi, arak-arakan menghadirkan kebersamaan, ngeriung mempererat silaturahmi, sedangkan dzikir dan sholawatan mengingatkan kembali pada kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.*

Tradisi seperti ini menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Banten yang menarik untuk terus dikenalkan kepada generasi muda. Di tengah perubahan zaman, kemeriahan Muludan tetap menjadi salah satu momen yang dinanti karena menghadirkan suasana kampung yang hidup, ramai, dan penuh kebersamaan.

Muludan, Tradisi yang Selalu Dirindukan

Bagi masyarakat Kampung Neglasari Benggala, Muludan bukan sekadar kegiatan tahunan. Ia telah menjadi bagian dari kenangan dan kehidupan masyarakat.

Dari persiapan membuat panjang mulud, kemeriahan suara petasan, arak-arakan yang diiringi rebana, hingga berkumpul bersama di masjid untuk berdzikir dan bersholawat—semuanya menjadi rangkaian yang memiliki cerita tersendiri.

*Begitulah wajah Muludan di Kampung Neglasari Benggala, Serang: meriah dalam kebersamaan, hangat dalam silaturahmi, dan khidmat dalam mengingat Rasulullah SAW.*

2 comments:

  1. emak-emak boleh ngeropok nggak tuh disana,,,heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada spanduk larangan utk ibu2 tdk boleh ikut ngeropok hehe

      Delete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran