Andai hutan bisa bicara, kira-kira apa yang akan dikatakannya kepada kita?
Mungkin ia tidak akan marah.
Mungkin juga tidak akan menyalahkan siapa-siapa.
Barangkali ia hanya akan berkata pelan,
“Tolong, jangan rusak aku.”
Sederhana sekali kalimatnya.
Tetapi kalau kita mau berhenti sebentar dan memikirkannya, kalimat itu terasa cukup dalam.
Karena hutan sudah begitu banyak memberikan sesuatu untuk kehidupan kita. Udara yang kita hirup, air yang kita butuhkan, tanah yang kita pijak, sampai berbagai hasil hutan yang bisa memberikan penghidupan bagi banyak orang.
Hutan memberi tanpa banyak meminta.
Lalu apa yang kita lakukan kepadanya?
Sebagian dari kita mungkin menjaganya.
Sebagian lagi mungkin tidak peduli.
Dan sebagian lainnya justru mengambil manfaat dari hutan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Saya bukan orang yang setiap hari berada di dalam hutan.
Saya tidak mengenakan seragam lapangan, tidak berkeliling dari satu petak hutan ke petak lainnya, dan tidak setiap hari berhadapan langsung dengan pohon-pohon yang tumbuh tinggi menjulang. Tidak bisa meraba, merasakan kulit, ranting dan daun dari sebuah pohon secara langsung.
Saya bekerja di Perum Perhutani, tapi di bagian perkantoran.
Sebuah perusahaan yang mungkin namanya sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Perum Perhutani merupakan salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang kehutanan, khususnya dalam pengelolaan sumber daya hutan di Pulau Jawa dan Madura.
Di tempat saya bekerja, hutan bukan sekadar pemandangan hijau yang indah.
Hutan adalah pekerjaan.
Hutan adalah tanggung jawab.
Hutan adalah sesuatu yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
Dan semakin lama saya bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan hutan, semakin saya menyadari bahwa menjaga hutan ternyata bukan pekerjaan sederhana.
Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan.
Bukan hanya bagaimana menanam pohon.
Tetapi juga bagaimana pohon-pohon itu bisa tumbuh.
Bagaimana hutan tetap lestari.
Bagaimana masyarakat di sekitar hutan bisa mendapatkan manfaat.
Dan bagaimana semuanya dapat berjalan bersama tanpa saling merugikan.
Hutan dan Masyarakat yang Hidup Berdampingan
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, keberadaan hutan tentu memiliki arti yang sangat penting.
Hutan bukan sesuatu yang berada jauh dari kehidupan mereka.
Hutan ada di sekitar mereka.
Bahkan kehidupan dan penghasilan sebagian masyarakat sangat berkaitan dengan kawasan hutan.
Karena itu, dalam pengelolaan hutan, masyarakat desa sekitar hutan juga tidak bisa begitu saja dipisahkan.
Salah satu bentuk keterlibatan masyarakat tersebut adalah melalui LMDH, atau Lembaga Masyarakat Desa Hutan.
Saya justru melihat bagian ini sebagai sesuatu yang menarik.
Menjaga hutan ternyata tidak selalu berarti masyarakat harus dijauhkan dari hutan.
Sebaliknya, masyarakat justru bisa diajak bersama-sama untuk menjaga sekaligus mendapatkan manfaat dari hutan dengan cara yang baik.
Ada sistem bagi hasil yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pendapatan.
Ada berbagai komoditas non kayu yang bisa dikembangkan.
Kopi salah satunya.
Kemudian ada padi, jagung, petai dan berbagai komoditas lainnya.
Jadi, hutan bukan hanya tentang pohon yang menghasilkan kayu.
Ada banyak kehidupan yang tumbuh bersamanya.
Dan ketika masyarakat bisa mendapatkan penghasilan dari kegiatan yang tetap memperhatikan kelestarian hutan, saya rasa di situlah sebuah keseimbangan mulai terbentuk.
Masyarakat mendapatkan manfaat.
Hutan tetap terjaga.
Perhutani pun bisa menjalankan tugas pengelolaannya.
Tentu saja dalam perjalanan seperti ini tidak semuanya selalu berjalan mulus.
Masalah sosial pasti ada.
Namanya juga berhubungan dengan manusia.
Ada perbedaan kepentingan, perbedaan pemahaman, dan berbagai persoalan yang terkadang membutuhkan komunikasi serta penyelesaian yang tidak sebentar.
Tetapi justru di situlah prosesnya.
Mencari jalan keluar agar kepentingan masyarakat tetap diperhatikan tanpa mengabaikan kelestarian hutan.
Ternyata Hutan Tidak Hanya Menghasilkan Kayu
Kalau kita berbicara tentang Perhutani, mungkin yang langsung terbayang adalah kayu.
Memang, salah satu usaha utama Perhutani adalah produksi kayu.
Tetapi ternyata hutan mempunyai begitu banyak potensi lain.
Ada madu.
Ada getah pinus yang kemudian dapat diolah menjadi gondorukem dan terpentin.
Ada kopi.
Ada berbagai tanaman yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Semakin saya mengetahui hal-hal tersebut, semakin saya menyadari bahwa hutan sebenarnya adalah sebuah ekosistem yang sangat kaya.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon.
Di sana ada air.
Ada tanah.
Ada tumbuhan.
Ada hewan.
Ada manusia.
Dan ada kehidupan yang saling berkaitan.
Kalau satu bagian rusak, bagian lain bisa ikut terkena dampaknya.
Mungkin kita tidak selalu menyadarinya karena kehidupan kita sehari-hari berada jauh dari hutan.
Kita tinggal di kota.
Pergi bekerja.
Pulang ke rumah.
Berbelanja.
Minum kopi.
Mengantar anak sekolah.
Dan menjalani rutinitas seperti biasa.
Tetapi di suatu tempat, ada hutan yang sedang bekerja untuk kita.
Pohon-pohon menghasilkan oksigen.
Tanah menyimpan air.
Hutan membantu menjaga keseimbangan lingkungan.
Dan tanpa kita sadari, kehidupan kita juga bergantung pada keberadaan hutan.
Sedih Melihat Hutan yang Gundul
Itulah sebabnya saya selalu merasa sedih ketika melihat berita tentang hutan yang semakin rusak.
Pohon-pohon ditebang secara liar.
Hutan terbakar.
Lahan berubah fungsi.
Dan di beberapa tempat, hutan yang dulu hijau berubah menjadi tanah yang gersang.
Bagi sebagian orang mungkin itu hanya berita.
Lewat di layar televisi atau muncul di media sosial, kemudian beberapa menit kemudian dilupakan.
Tetapi bagi kami yang bekerja di lingkungan kehutanan, berita seperti itu terasa berbeda.
Ada rasa prihatin.
Ada rasa sedih.
Karena kami tahu bahwa membuat hutan kembali hijau bukan pekerjaan satu atau dua hari.
Tidak semudah menanam pohon hari ini lalu besok melihatnya menjadi besar.
Ada proses panjang di belakangnya.
Ada bibit yang harus disiapkan.
Ada persemaian yang harus dirawat.
Ada penanaman.
Ada pemeliharaan.
Ada pengawasan.
Dan ada orang-orang yang setiap hari bekerja di lapangan untuk memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Di sinilah saya mengenal beberapa istilah yang mungkin tidak terlalu akrab bagi masyarakat umum.
Ada mandor tanaman.
Ada mandor persemaian.
Ada mandor tebang.
Mereka adalah orang-orang yang lebih banyak bersinggungan langsung dengan hutan dibandingkan kami yang bekerja di kantor.
Kalau kami di kantor mungkin sibuk dengan dokumen dan pekerjaan administrasi, mereka berada di lapangan.
Berhadapan langsung dengan panas, hujan, jalan yang tidak selalu mudah, dan tentu saja dengan hutan itu sendiri.
Saya sering berpikir, mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa ada begitu banyak pekerjaan di balik sebuah hutan yang terlihat hijau dan rindang.
Kita hanya melihat hasil akhirnya.
Pohon-pohon berdiri.
Daunnya hijau.
Udara terasa sejuk.
Tetapi di balik pemandangan itu ada orang-orang yang bekerja dan menjaga.
Menanam Pohon Itu Seperti Menanam Harapan
Kita menanam hari ini, tetapi belum tentu kita yang akan menikmati hasilnya.
Pohon membutuhkan waktu.
Tidak seperti menanam sayuran yang dalam beberapa bulan sudah bisa dipanen.
Ada pohon yang harus menunggu bertahun-tahun sebelum menjadi besar.
Artinya, ketika seseorang menanam pohon hari ini, bisa jadi dia sedang melakukan sesuatu untuk orang yang bahkan belum dikenalnya.
Untuk anak-anak yang belum lahir.
Untuk cucu-cucu yang belum ada.
Untuk generasi yang mungkin tidak pernah tahu siapa yang dulu menanam pohon tersebut.
Dan menurut saya, di situlah letak indahnya.
Menanam pohon adalah salah satu bentuk kebaikan yang tidak selalu membutuhkan ucapan terima kasih.
Kita menanam.
Kita merawat.
Kemudian membiarkannya tumbuh.
Suatu hari nanti, orang lain yang mungkin akan menikmati teduhnya.
Masih Ada Harapan
Di tengah banyaknya berita tentang kerusakan hutan, sebenarnya saya tidak ingin hanya melihat sisi buruknya.
Karena masih ada banyak hal yang membuat kita boleh berharap.
Masih ada orang yang setiap hari pergi ke lapangan untuk menanam.
Masih ada yang merawat bibit di persemaian.
Masih ada masyarakat desa yang ikut terlibat dalam pengelolaan kawasan hutan.
Masih ada kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Masih ada penanaman kembali.
Dan masih ada orang-orang yang percaya bahwa hutan harus tetap hijau.
Mungkin pekerjaan mereka tidak selalu masuk berita.
Tidak viral.
Tidak mendapatkan banyak perhatian.
Tetapi pekerjaan itu terus dilakukan.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Dan mungkin justru karena itulah kita masih bisa melihat hutan-hutan yang tetap berdiri sampai hari ini.
Perum Perhutani sendiri terus berusaha menjalankan pengelolaan hutan dengan prinsip kelestarian dan tata kelola perusahaan yang baik.
Salah satu semangat yang selalu digaungkan adalah “Terus Hijaukan Negeri.”
Kalimatnya sederhana.
Tetapi kalau direnungkan, maknanya sangat dalam.
Karena menghijaukan negeri bukan hanya tentang menanam pohon.
Menghijaukan negeri juga berarti menjaga apa yang sudah hijau.
Merawat apa yang sudah tumbuh.
Mengajak masyarakat ikut peduli.
Dan memastikan bahwa hutan tetap memberikan manfaat tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.
Karena Hutan Adalah Titipan
Saya sendiri mungkin bukan orang yang paling tahu tentang hutan.
Saya hanya bekerja di salah satu bagian dari sebuah organisasi yang kehidupannya sangat berkaitan dengan hutan.
Tetapi dari tempat saya bekerja, saya belajar satu hal.
Bahwa hutan bukan hanya sesuatu yang kita manfaatkan.
Hutan juga sesuatu yang harus kita pertanggungjawabkan.
Kita boleh mengambil manfaat dari hutan.
Masyarakat boleh mendapatkan penghasilan.
Perusahaan boleh mendapatkan hasil dari pengelolaan hutan.
Tetapi semuanya harus dilakukan dengan tetap menjaga kelestariannya.
Karena kalau hutan habis, pada akhirnya semua akan kehilangan.
Bukan hanya Perhutani.
Bukan hanya masyarakat desa sekitar hutan.
Tetapi kita semua.
Mungkin hari ini kita masih bisa duduk nyaman di rumah.
Masih bisa menghirup udara.
Masih bisa menikmati hujan.
Masih bisa melihat pepohonan hijau di perjalanan.
Tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan hutan beberapa puluh tahun lagi jika tidak dijaga mulai sekarang.
Itulah sebabnya saya percaya, harapan untuk hutan Indonesia masih ada.
Selama masih ada yang mau menanam.
Selama masih ada yang mau merawat.
Selama masih ada masyarakat yang mau ikut menjaga.
Selama masih ada orang-orang yang merasa sedih ketika melihat hutan gundul.
Dan selama masih ada kita yang mau peduli.
Mungkin saya tidak bisa melakukan sesuatu yang besar untuk seluruh hutan Indonesia.
Tetapi setidaknya, melalui pekerjaan saya, saya menjadi bagian kecil dari orang-orang yang berusaha menjaganya.
Dan ternyata menjadi bagian kecil dari sebuah kebaikan pun tetap berarti.
Karena hutan yang luas itu juga dimulai dari satu pohon.
Satu pohon yang ditanam.
Kemudian tumbuh.
Lalu menjadi banyak pohon.
Dan akhirnya menjadi hutan.
Jadi, kalau suatu hari nanti kita melihat hamparan hutan yang hijau dan rindang, mungkin kita perlu berhenti sebentar dan menyadari bahwa pemandangan itu tidak terjadi begitu saja.
Ada tangan-tangan yang menanamnya.
Ada orang-orang yang merawatnya.
Ada masyarakat yang hidup berdampingan dengannya.
Dan ada harapan yang terus ditanam bersama setiap pohon yang tumbuh.
Sebab mungkin benar...
hutan bukan hanya tentang pohon.
Hutan adalah tentang kehidupan.
Dan selama kita masih mau menjaganya, semoga kehidupan itu akan tetap hijau.
Terus Hijaukan Negeri.



No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran