Wednesday, August 15, 2018

Dilema Sekolah Farras

Ajaran baru tahun 2018/2019 sudah dimulai sejak bulan Juli kemarin. Ada cerita lebih tepatnya mungkin dilema dalam mencari sekolah Farras selepas SD-nya dalam keluarga kami yang belum saya tulis untuk saya share pada teman-teman semua.


waktu melihat-lihat MTsN

Saat itu, jauh sebelum Farras akan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional), saya, suami dan Farras sudah membicarakan tentang SMP man yang akan kami pilih untuk Farras nanti. Saya menawarkan pesantren. Saya lebih sreg Farras masuk pesantren. Selain ilmu dunia yang Farras dapatkan, ilmu untuk bekal akhirat pun akan Farras peroleh, itu pemikiran saya saat itu. Suami pun setuju walaupun sepertinya tidak 100%. Suami berpikir, bagaimana kalau Farras sakit, bagaimana kalau Farras ada yang membully, menyakitinya secara fisik dan psikis. Sementara para pengajar disana pastinya tidak akan bisa 100% mengawasi para santri yang segitu banyaknya, walaupun mungkin setiap kamar yang dihuni oleh santri ada satu penanggung jawab dari piahk pesantren. Namun tetap kami khawatir para penanggung jawab tersebut tidak bisa memantau secara maksimal. Bukannya kami tidak percaya pada pihak pesantren, namun dibanding orang tua pasti akan lebih intens dalam memantau anak-anaknya. Begitu pertimbangan kami saat itu. Walaupun ada pula pertimbangan lain yang cenderung berat pada pesantren, yaitu Farras pasti bisa berkembang dengan pesat jika di pesantren. Farras akan lebih mandiri, Farras yang cenderung senang berteman dan mudah bersosialisasi pastinya akan merasa senang dan nyaman berada di lingkungan pesantren yang banyak orang. Bisa saya bayangkan bagaimana Farras bisa berekspresi dan mengeksplor pengalaman barunya di pesantren. Kamar yang dihuni oleh pastinya lebih dari 5 orang, yang akan membuat Farras antusias, ngobrol sana sini, diskusi dan saling bekerja sama. Tapi memang jika teman-teman sekamarnya bisa kompak dan tidak ada yang 'aleman'. Saya dan suami sudah memikirkan hal itu, panjaaaang......

Berbeda dengan keinginan Farras, dia ingin masuk SMPN favorit yang ada di kota kami. Kami tawarkan pesantren, Farras geleng-geleng, menandakan keengganannya. Sempat kami mau bawa Farras melihat-lihat pesantren incaran kami, tapi tidak jadi karena tidak sempat terus. Akhirnya kami ceritakan sedikitnya tentang kondisi pesantren itu seperti ini lho Kak.... tidak seperti yang Farras bayangkan, bahwa pesantern seolah-olah seperti 'penjara' yang tidak bisa ngapa-ngapain, tidak seperti itu, justru akan lebih menyenangkan untuk anak seperti Farras. Kami perlihatkan juga lingkungan pesantren yang kami incar itu melalui website-nya. Sempat Farras tergoda, namun sepertinya masih ragu-ragu. Salah kami juga sih, mengenalkan pesantren tidak dari dulu. sejak Farras duduk di kelas 3 atau 4 misalnya. Kami mengenalkan pesantren pada Farras di detik-detik terakhir Farras hendak lulus SD. 

Walaupun saya dan suami dulu pernah sekolah di SMPN yang Farras inginkan saat ini, tapi rasanya kami ragu untuk memasukan Farras ke SMPN dimana kami menjadi alumni. Kondisi jaman kami SMP dengan kondisi sekarang, berbeda. Kondisi anak-anak remaja sekarang lebih rawan dibandingkan kondisi remaja kami dulu, makanya kami ingin memberikan Farras bekal di sekolahnya dengan bekal ilmu dunia dan ilmu akhirat. Tapi kami pun tidak ingin memaksa Farras harus masuk ke sekolah yang kami, orangtuanya inginkan, sementara Farras enggan.

Akhirnya kami mengambil jalan tengah, menawarkan Farras untuk masuk MTsN. Tidak langsung meng-iya-kan, namun akhirnya Farras mau. Mulailah Farras mempelajari materi-materi untuk test masuk MTsN. Test masuk MTsN saat itu dilaksanakan sebelum USBN, kalau tidak salah bulan Maret.

Hasil test MTsN Farras memuaskan. Nilai test MTsN Farras berada di posisi kedua teratas. Farras pun terlihat puas dan senang karena kerja kerasnya membuahkan hasil. Oke kami pun daftar ulang dan membayar uang untuk pembuatan seragam, sesuai dengan tanggal yang tertera di surat yang dikeluarkan oleh pihak MTsN. Beres. Tinggal persiapan USBN Farras.

Setelah USBN, saatnya penerimaan siswa/i baru di SMP. Farras mengutarakan keinginannya untuk ikut daftar pada penerimaan SMP itu. Tentunya tetap pada pilihannya yaitu SMPN favorit yang Farras inginkan. Saya sempat bertanya, terus kalau keterima, MTsN nya bagaimana Kak? Farras cuma diam. Daftar aja sih dulu Bu, jawabnya. Yah... okelah akhirnya suami saya ikut daftar online pada SMPN yang Farras inginkan.

Singkat cerita, Farras pun keterima di SMPN yang Farras inginkan. Sempat bimbang, mau diambil yang mana? Setelah berembuk, menimbang dan akhirnya memutuskan, kami tidak akan memaksakan kehendak kami, karena nantinya Farras yang akan menjalani. Kami khawatir jika Farras sekolah pada pilihan kami, Farras tidak betah dan khawatir berefek negatif nantinya. 

Sekarang Farras sudah sekolah di SMPN yang diinginkan Farras dengan berbagai macam kegiatannya di luar kegiatan belajarnya di dalam kelas. Tentunya kami memberikan catatan-catatan buat Farras karena kami meloloskan keinginan Farras untuk masuk SMPN pilihannya. Diantaranya harus setoran hafalan Al-Qur'an pada saya. Saya tekankan, walaupun Farras sekolah di SMP umum, tapi jangan mau kalah dengan anak-anak yang sekolah di MTsN. Farras mengangguk menyetujui.

Dasarnya memang Farras mah anaknya pengen banyak gaul, jadi pulang sekolah Farras senang banyak ngobrol terlebih dahulu dengan teman-temannya di sekolah. Daripada ngobrol dan mendapatkan teman baru dengan cara kongkow-kongkow teu puguh di sekolah, akhirnya suami saya menyarankan Farras jika ingin banyak teman, caranya masuk aja ekskul sebanyak-banyaknya, cari teman yang banyak disitu. Setelah mendapatkan banyak teman, cari dan fokuskan pada ekskul yang benar-benar Farras minati. Farras pun menurut. Sekarang ini setiap harinya sepulang sekolah, Farras ikut ekskul yang tidak bentrok waktunya tentunya sambil mencari dan berkenalan dengan teman baru. 


Farras and Friends

Sekolah baru sudah Farras jalani selama 2 bulan, dan setiap hari PR bejibun. Kami selaku orang tua masih memantau. Jika ada tindakan atau ucapan Farras pada teman-temannya atau lingkungannya yang kurang baik, kami akan menegur dan memberinya nasehat. Farras bukan tipikal anak yang begitu saja mematuhi, mungkin karena anak yang baru menginjak masa-masa remaja, sifat membangkang masih terlihat, walaupun kalau Farras merasa salah, akan terlihat dari mimik wajahnya dan dia akan diam saja ketika kami nasehati.

Harapan kami selaku orang tua, semoga Farras bisa melewati masa remajanya dengan baik, memiliki akhlakul kharimah sehingga Farras tumbuh menjadi anak yang sholeh. 

4 comments:

  1. Amin..insya allah semakin besar, farras sudah semakin paham yang baik dan buruk ya dan selamat ya farras sudah dapat sekolah yang diinginkan..

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah yah mudah2an Farras bertumbuh terus menjadi yang terbaik yang bisa membanggakan kedua orang tua, aamiin.

    ReplyDelete
  3. kadang keinginan orang tua ngga sejalan dengan keinginan anak ya mba, jaman dulu sih anak bakal nurut2 aja apa yg disuruh ortunya :D
    Sekarang aku dah punya anak, rasanya membalikan pada diri sendiri kalau disuruh melakukan hal yg dia ngga suka pasti dampaknya kurang bagus... jadi untuk sekolah kayaknya saya mending mengembalikan ke anaknya, kalau suka alhamdulillah, karena jadi lebih semangat sekolah

    Semoga Farras bisa berprestasi sekolah di SMPN yg diinginkan :)

    ReplyDelete
  4. Semoga farras mencapai apa yang ditargetkan dan bahagia ini yg penting :)

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran