Wednesday, September 23, 2020

Bersepeda (Part 1)


Sudah lama ini blog tidak terisi hiks...

Sebetulnya sudah lama berencana mau mengisi blog tentang kegiatan baru saya, yaitu Bersepeda. Tapi masih aja terkendala waktu *ngeles mode on* :)
Alhamdulillah akhirnya bisa juga mengisi ini blog. Perjalanan bersepeda saya InsyaAllah akan saya tuangkan di blog tercinta saya ini, mulai dari awal sampai sekarang.

Sudah mungkin sekitar 2 bulanan saya mulai menyukai bersepeda menyusuri jalanan bersama suami saya. Mungkin awalnya karena lagi ngetren ya, tapi lama-lama asyik juga. Akhirnya berlanjut sampai sekarang. Tapi saya bersepeda selalu berdua saja dengan suami, tidak pernah bareng-bareng beramai-ramai dan tidak juga tergabung dalam komunitas sepeda seperti yang sedang marak sekarang ini. Karena saya masih khawatir pandemi yang masih ada di negara kita, jadi ya... bersepeda cukup berdua saja dengan suami.

Here's the story begin :)

Saat ini sedang marak-maraknya tren bersepeda. Mungkin kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin tinggi seiring dengan merebaknya pandemi Covid 19. Hanya saja dibalik kesadaran akan kesehatan, banyak yang abai terkait protokol kesehatan saat bersepeda, seperti berkerumun saat bersepeda dan tidak menjaga jarak.

Saya termasuk yang ikut tren bersepeda tersebut. Siapa yang tak ingin sehat kan? Hanya saja saya tidak memiliki komunitas bersepeda, karena ya itu, saya masih takut jika harus berkerumun walaupun menggunakan masker. Sementara kalau punya komunitas, pasti bersepeda akan bareng-bareng bersama komunitas dengan jumlah orang yang banyak. Selama ini saya bersepeda hanya berdua saja dengan suami, kemana-mana berdua saja. Saya khawatir  lengah saat di tengah-tengah orang banyak.

Awalnya saya tidak tertarik gowes sepeda karena memang sudah puluhan tahun tidak menggunakan sepeda. Sepeda pun tak ada. Bahkan mengendarai sepeda motor pun saya tidak bisa.

Tapi ketika anak saya punya sepeda baru berupa sepeda lipat, akhirnya saya ikut menggunakananya. Daripada setiap pagi sepeda nganggur, saya pakai sajalah, hitung-hitung untuk menyehatkan tubuh.

Puluhan tahun tidak menggunakan sepeda, ternyata saya masih bisa menjaga keseimbangan saat mengendarai sepeda. Untuk memulai bersepeda, saya tidak berani langsung ke jalan raya. Saya mulai dari jalan di kampung saja. Lumayanlah untuk pemula seperti saya, muter-muter kampung. Di jalan sempat menemukan turunan, ya ampun  deg-degan banget khawatir jatuh, sepedaan cuma sendirian lagi. Mana setelah turunan di depan ada pertigaan, Ya Allah...  Saya tekan pelan-pelan rem tangan sepeda, Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Saya masih bisa mengendalikan sepeda dengan baik.

Sampai rumah, saya cerita sama suami kalau saya baru selesai sepedaan muter-muter kampung. Suami tanya, “Ibu pakai sepeda yang mana?” Saya jawab, “Sepeda yang merah.” Suami tanya lagi, ”Kenapa gak pakai yang hijau Bu, yang baru?” Di rumah memang ada sepeda lama, sepeda BMX. Sementara sepeda baru punya anak perempuan saya berupa sepeda lipat. Lalu saya jawab, “Sepeda lipat sadelnya ketinggian, Ibu gak bisa makenya.” Lalu suami bilang lagi, “Sepeda merah itu gak ada rem kirinya Bu, adanya rem kanan. Kalo ibu ngerem, bahaya karena rem kanan itu untuk roda depan, ibu bisa ngejungkel. Kalo rem kiri untuk roda belakang. Lagian sadel tinggi kan bisa dipendekin, Bu.” Saya membatin, haduh... untung tadi pas turunan saya gak apa-apa, soalnya aku menekan rem keras banget tapi memang sedikit-sedikit, gak langsung aku tekan. “Ibu gak tahu cara mendekin nya Yah.” Jawab saya. Mungkin kalau saya tekan pol langsung, saya bisa saja ngejungkel seperti kata suami, nanti saya bakalan kapok naik sepeda lagi.

Minggu selanjutnya, saya bersepeda ditemani suami. Baru deh, kali ini masuk jalan raya tapi hanya tipis-tipis saja. Jaraknya tambah jauh dibanding ketika saya hanya muter-muter kampung. Begitu masuk jalan raya, baru deh the real challenge saya dapatkan, seperti banyak kendaraan roda dua maupun roda empat yang berseliweran. Saya masih takut kalau di belakang ada motor nyalib dengan kencang atau klakson mobil di belakang dengan bunyi yang keras, juga jika ada mobil besar lewat. Jadi harus benar-benar konsentrasi. Sampe suami bilang, “Kalau bersepeda itu jangan tegang. Wajah Ibu tegang banget.” Bagaimana gak tegang, lha wong banyak motor dan mobil lewat. Ya iyalah namanya juga jalan raya ya, hehehe. Maklumlah newbie dalam hal bersepeda.


Di jalan, sambil bersepeda suami memberi wejangan ini dan itu, seperti cara menggunakan sepeda yang baik, cara nyebrang, cara memindahkan gigi, cara memainkan rem, dll. Sempat ruwet karena diceramahin terus hihihi (maafkan suami). Alhamdulillah kali kedua bersepeda dengan suami, lancar. Walaupun setelahnya, kaki pegal-pegal akibat belum terbiasa secara rutin menaiki sepeda.

Minggu selanjutnya, suami ngajak sepedaan lagi. Kali ini jarak tempuhnya ditambah lebih jauh lagi. Saya oke-in karena saya pikir bareng suami ini. Kalau ada apa-apa, suami yang nanggung wkwkwk... Misalnya saya kecapean dan saya mogok jalan lagi. Ini cuma misal lho...

Baiklah tujuan kali ini bersepeda ke Stadion yang berada di kota kami, lumayan jauh sih untuk yang baru-baru menggunakan sepeda lagi seperti saya. Tapi kalau gak nyoba, track sepeda saya masa cuma muter-muter kampung doang...

Mulailah pagi itu kami berangkat dari rumah menuju Stadion. Kami beangkat pagi sekitar jam 6. Suami yang memimpin sepeda, berada di depan. Saya mengikuti dari belakang. Tidak terlalu ramai karena masih pagi, tapi tetap saja kendaraan sepeda motor kalau jalanan sepi bawanya seperti cahaya, wuzzz... sambil menekan klakson, kan bikin bulu kuduk merinding. Cara bersepeda kami memang tidak pernah kencang, pelan-pelan saja yang penting nyampe dan olahraga terpenuhi. Dari tempat kediaman kami menuju Stadion jaraknya sekitar 2 KM. Dan Alhamdulillah tidak ada tanjakan hehehe...

Sampai sudah kami di Stadion, berkeliling-keliling melihat banyak aktivitas manusia disini. Ada yang sedang senam, jalan santai, lari-lari kecil, sepedaan juga ada dan tak lupa para pedagang makanan, minuman, pakaian, dll yang menghiasi Stadion kota kami di Minggu pagi ini.

Setelah puas keliling-keliling di dalam Stadion, suami mengajak ke rumah ibu saya yang memang lokasinya tidak terlalu jauh dari Stadion, tapi sebelum ke rumah ibu, kami mampir untuk sarapan dulu. Kami pun keluar dari area Stadion menuju rumah ibu. Dalam perjalanan menuju rumah ibu, suami mencari tempat sarapan. Di depan ada warung tenda nasi uduk, di atas trotoar. Suami pun dengan santainya membelokan sepedanya, naik ke atas troroar demi menuju warung tenda nasi uduk. Saya, yang baru dalam bersepeda, ikutan suami dong, langsung membelokan stang sepeda untuk naik ke atas trotoar. Boro-boro landing dengan mulus seperti suami saya, sepeda saya malah terantuk trotoar dan GUBRAK! Saya pun jatuh dari sepeda. Ya Allah... tangan perih kena trotoar, lutut lemas dan sakit. Suami langsung menengok dan ngomong, “kok jatuh sih, Bu?” sambil menolong saya membantu bangun dan mukanya yang mesem-mesem menahan tawa. Istrinya sakit gini, malah mesem-mesem lagi, batin saya. Jangan ditanya deh tatapan orang-orang yang sedang makan di warung tenda tersebut. Begitu mendengar suara gubrak mereka serempak memandang saya dengan tatapan berbeda-beda, ada yang merasa kasihan, ada yang mengernyit, ada yang menahan tawa. Haduuh... malunya. Sebodo ah... kami kesini kan mau makan. “Ibu ini gak ada angin gak ada hujan, malah jatuh. Kenapa bisa jatuh, Bu?” Tanya suami saya lagi. Ish.. malah dibahas lagi. “Ya ... Ibu kan ikut-ikutan Ayah langsung belok. Wong Ayah belok begitu kok enak, lha Ibu niru dong, eh malah jatuh.” Suami malah tertawa, bikin tambah malu saja. “Ya gak bisa dong, Bu. Ibu belum bisa kalau belok langsung kayak Ayah. Jangan dibelokin langsung begitu, berhenti dulu, baru belok.” Begitu kata suami saya. Mbuhlah.. Tangan ini pokoknya masih cenut-cenut.
Selepas sarapan di warung tenda nasi uduk, kami pun membungkus untuk ibu saya, dan menuju rumah ibu. Setelah selesai,  kami  pulang kerumah.

Sampai rumah, suami saya cerita kejadian lucu tadi ke anak kami. Anak saya ini tahu kalau saya pakai sepeda itu masih kaku. Jadi begitu anak saya diceritain oleh ayahnya tentang ibunya yang jatuh dari sepeda, bukannya kasihan atau apa begitu, malah tertawa, sama seperti ayahnya. Kompak berdua ngetawain saya. Sampe suami saya mengajak anak kami untuk melihat lokasi dan bagaimana saya bisa jatuh dari sepeda, seperti reka ulang begitu.. Duh.. Dan setelah suami dan anak kami pulang setelah reka ulang pun, masih menertawakan saya. Anak saya bilang, “Begitu saja bisa jatuh, Bu.. Ibu.” Ish.. awas ya, kalian itu... 

*Bersambung*

5 comments:

  1. wah lagi hobi naik sepeda ya mbak, semangat

    ReplyDelete
  2. Hahaha aduh aku jadi ikutan ketawa. Maapin 😂
    Memang ngerinya naik sepeda di jalan raya itu saingannya ya kendaraan besar lainnya. Kalau sendirian mendingan jangan ya mbak. Apalagi kalau masuk jalan tol, melawan arah lagi hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe... sendirian gak berani apalagi masuk tol hiii... ngeriii 😁

      Delete
  3. Seru juga tuh sepedaan.
    Jadi kangen moment-moment bersepeda seperti saat kuliah dulu.
    Tiap hari sabtu sepedaan sampe ke pinggiran kota.

    ReplyDelete

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran