Saturday, September 05, 2026

Curug Goong Padarincang: Ketika Wisata Alam yang Indah Terlihat Sepi dan Kurang Terawat


Akhir pekan biasanya menjadi waktu yang pas untuk jalan-jalan bersama keluarga atau pasangan. Tidak harus pergi jauh atau mencari tempat wisata yang ramai. Kadang, perjalanan sederhana dengan mengendarai motor bersama suami pun sudah cukup untuk membuat akhir pekan terasa berbeda.

Kali ini, saya dan suami mencoba mengunjungi *Curug Goong di Padarincang, Kabupaten Serang, Banten*. 

Nama Curug Goong di daerah Banten ada 2, yaitu Curug Goong yang terdapat di daerah Mandalawangi Pandeglang, dan Curug Goong yang terdapat di daerah Padarincang Serang. Keduanya sudah pernah saya datangi. Hanya saja, Curug Goong Pandeglang belum saya post di blog saya ini.

Kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya menuju Curug Goong Padarincang Kabupaten Serang.

Kami berangkat mengendarai motor. Perjalanan menuju Curug Goong cukup menyenangkan karena suasana pedesaan masih begitu terasa. Sepanjang perjalanan, kami bisa menikmati pemandangan hijau dan suasana yang jauh dari keramaian kota.

Salah satu yang menarik perhatian kami adalah kebun-kebun durian yang kami lewati. Kebetulan saat itu pohon-pohon durian sedang berbuah. Melihat buah durian bergelantungan di pohonnya menjadi pemandangan tersendiri yang membuat perjalanan semakin menarik.

Weekend, tetapi Curug Goong Sangat Sepi


Kami sempat membayangkan suasana Curug Goong Padarincang akan cukup ramai karena kami datang pada akhir pekan. Cukup ramai seperti saat kami mengunjungi Curug Cigumawang Padarincang.

Namun, ternyata keadaan justru sebaliknya.

Saat sampai di lokasi, suasananya sangat sepi. Bahkan, pada awalnya hanya ada *saya dan suami* sebagai pengunjung. Tidak lama kemudian, baru datang tiga orang pengunjung lainnya.

Bagi sebagian orang, suasana sepi mungkin justru menyenangkan. Kami bisa menikmati suasana alam dengan lebih tenang tanpa harus berdesakan dengan pengunjung lain. Tetapi di sisi lain, kondisi yang terlalu sepi juga membuat kami bertanya-tanya. 

*Mengapa tempat wisata dengan potensi alam seperti ini justru terlihat begitu sepi, bahkan di akhir pekan?*

Menyeberangi Sungai Menuju Curug


Untuk menuju kawasan Curug Goong Padarincang, kami harus melewati sebuah jembatan yang digunakan untuk menyeberangi sungai.

Jembatan tersebut menjadi salah satu bagian yang cukup menarik dari perjalanan menuju curug. Setelah melewati jembatan, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan air terjun.

Sebelum sampai ke area curug, terdapat tulisan *“Curug Goong”* yang dilengkapi dengan logo Kabupaten Serang.


Tulisan tersebut menjadi penanda bahwa kami sudah memasuki kawasan wisata Curug Goong.

Rasanya ada sedikit harapan ketika melihat penanda tersebut. Apalagi dari beberapa bagian kawasan terlihat bahwa tempat ini sebenarnya pernah dipersiapkan dengan fasilitas yang cukup baik.

Sayangnya, ketika melihat lebih dekat, kami justru menemukan banyak fasilitas yang kondisinya sudah kurang terawat.

Fasilitas yang Terlihat Pernah Bagus, tetapi Kini Terbengkalai

Salah satu yang kami lihat adalah tempat mandi dan bilas.

Sebenarnya keberadaan tempat mandi dan bilas tentu sangat membantu pengunjung, terutama bagi mereka yang ingin bermain air di curug. Namun, saat kami datang, kondisinya sudah rusak dan tidak digunakan lagi.

Begitu juga dengan tangga yang digunakan untuk turun menuju bagian bawah curug.

Tangga tersebut terbuat dari batu dan sebenarnya sudah dilengkapi dengan pegangan. Kalau dirawat dengan baik, fasilitas seperti ini tentu akan sangat membantu pengunjung karena akses menuju curug menjadi lebih mudah dan aman.

Namun, kondisinya saat kami datang terlihat kurang terurus.

Melihat keadaan tersebut cukup disayangkan.

Sebab, dari bentuk fasilitas yang ada, kami bisa membayangkan bahwa *Curug Goong Padarincang sebenarnya pernah dipersiapkan sebagai tempat wisata yang cukup serius*.

Sayang sekali jika fasilitas yang sudah dibangun kemudian dibiarkan rusak dan tidak digunakan.

Keindahan Alamnya Masih Ada


Walaupun kondisi fasilitasnya cukup memprihatinkan, bukan berarti Curug Goong Padarincang kehilangan daya tariknya.

Alam di sekitarnya masih memberikan suasana yang menenangkan.

Pepohonan hijau dan suara air membuat tempat ini terasa jauh dari kebisingan. Justru karena sepi, kami bisa menikmati suasana alam dengan lebih leluasa.

Bagi orang yang menyukai wisata alam yang tenang, suasana seperti ini mungkin menjadi sebuah kelebihan.

Tidak ada kerumunan.

Tidak ada suara musik yang keras.

Tidak perlu antre untuk berfoto.

Hanya ada suara air, pepohonan, dan suasana alam yang menemani kami.

Namun, tentu akan jauh lebih menyenangkan jika keindahan alam tersebut didukung dengan fasilitas yang terawat.

Melewati Kebun Durian

Salah satu hal yang paling saya ingat dari perjalanan menuju Curug Goong Padarincang adalah kebun durian.

Saat itu sedang musim buah. Beberapa pohon durian terlihat sedang berbuah.

Pemandangan seperti ini menjadi pengalaman menarik tersendiri karena kami tidak hanya melihat air terjun, tetapi juga bisa merasakan suasana pedesaan yang masih sangat kental.

Bagi wisatawan dari daerah perkotaan, melewati kebun durian sambil mengendarai motor menuju tempat wisata tentu memberikan pengalaman yang berbeda.

Apalagi jika datang pada musim durian. Rasanya perjalanan ke Curug Goong Padarincang bisa sekaligus menjadi perjalanan menikmati suasana kebun dan hasil bumi masyarakat setempat.

Ada Rumah Kayu untuk Menginap

Ternyata di sekitar kawasan Curug Goong Padarincang ini juga terdapat *rumah-rumah kayu yang bisa disewa untuk menginap*.

Konsep seperti ini sebenarnya menarik.

Bayangkan bisa bermalam di rumah kayu, menikmati suasana pedesaan, mendengar suara alam dan merasakan udara yang lebih sejuk.

Bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu lebih lama, keberadaan tempat menginap seperti ini tentu bisa menjadi nilai tambah.

Sayangnya, potensi tersebut menurut saya masih bisa dikembangkan dan ditata dengan lebih baik agar semakin menarik bagi wisatawan.

Sayang Sekali Kalau Curug Goong Padarincang Dibiarkan

Perjalanan kami ke Curug Goong meninggalkan kesan yang cukup campur aduk.

Di satu sisi, kami senang bisa menemukan tempat yang masih tenang dan memiliki suasana alam yang indah. Perjalanan dengan motor bersama suami, melewati jalan pedesaan dan kebun durian yang sedang berbuah, menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Tetapi di sisi lain, kami juga merasa *sayang sekali melihat fasilitas wisata yang sudah ada tetapi kondisinya tidak terawat*.

Tempat mandi dan bilas yang rusak, tangga menuju curug yang kurang terurus, serta suasana wisata yang sangat sepi membuat kami berpikir bahwa Curug Goong Padarincang sebenarnya masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar.

Padahal, jika fasilitas diperbaiki, kebersihan dijaga, akses ditata, dan promosinya dilakukan dengan baik, bukan tidak mungkin Curug Goong padarincang bisa menjadi salah satu tujuan wisata alam yang menarik di Kabupaten Serang.

Potensi alamnya sudah ada.

Suasana pedesaannya juga ada.

Kebun durian ada.

Tempat menginap pun tersedia.

Tinggal bagaimana semua potensi tersebut dikelola dan dirawat secara berkelanjutan.

Penutup

Perjalanan ke Curug Goong Padarincang bersama suami kali ini menjadi pengalaman yang cukup unik.

Kami datang di akhir pekan dengan harapan menemukan tempat wisata yang ramai, tetapi ternyata hanya kami berdua yang berada di lokasi pada awal kedatangan. Beberapa saat kemudian barulah tiga orang pengunjung lainnya datang.

Sepi memang.

Tetapi justru karena sepi itulah kami bisa menikmati alam dengan lebih tenang.

Hanya saja, sebagai pengunjung, tentu kami berharap suatu saat nanti Curug Goong Padarincang bisa kembali ditata dan dirawat dengan lebih baik. Berdasarkan hasil bertanya kami kepada sepertinya penjaga curug, kedepannya Curug Goong Padarincang akan dikelola lagi dengan baik, berganti pengelola. Curug Goong Padarincang tidak lagi dekolal oleh pengelola lama, tapi akan ada pengelola baru.

Semoga fasilitas yang sudah pernah dibangun dapat diperbaiki kembali, kawasan wisata dijaga kebersihannya, dan potensi alam serta budaya di sekitarnya semakin dikembangkan.

Karena *Curug Goong bukan tidak memiliki daya tarik. Ia hanya membutuhkan perhatian dan pengelolaan yang lebih baik.*

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kami kembali berkunjung ke Curug Goong Padarincang, suasananya sudah jauh lebih hidup, fasilitasnya sudah kembali terawat, dan lebih banyak orang yang datang untuk menikmati keindahan alamnya. 

No comments:

Post a Comment

terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran