Aku adalah penghuni baru di komplek ini. Baru sekitar sepekan menempati rumah ini. Rumah yang aku beli dengan cara menyicil. Aku memang belum sempat menyambangi tetangga-tetanggaku untuk mengenalkan diri sekaligus bersilaturahmi. Aku hanya sempat lapor pada ketua RT di komplekku.
Selama sepekan ini, aku perhatikan depan rumahku selalu sepi. Hanya ada jemuran yang setiap harinya baju yang dijemurnya selalu sama. Kemeja putih, celana panjang hitam, daster bunga-bunga dan handuk berwarna cokelat.
Sebenarnya aku penasaran pada tetangga depan rumahku ini. Ingin mendatangi rumahnya, lalu mengobrol sedikit sekedar berbasa basi. Masa sesama tetangga tidak saling mengenali? Begitu pikirku. Penasaran juga, kenapa jemuran bajunya selalu sama setiap hari?
Hari ke sepuluh, aku sempatkan mendatangi tetangga depan rumahku ini, dengan membawa sedikit makanan pada piring yang aku pegang. Ketika aku hendak masuk ke pagar rumah tetangga depan rumahku, ada yang menyapa aku, "Mau kemana Bu?" Aku langsung menengok pada sumber suara, "Eh... ini Bu, mau ke rumah ini." Aku menunjuk rumah yang akan aku tuju. "Lho... rumah itu kan sudah lama kosong Bu." Aku melongo. "Haaa? Tapi jemuran bajunya selalu ada kok Bu..." Aku meunjuk pada jemuran yang selalu berisi baju yang sama. Tapi... eh lho kok sekarang jemurannya sudah tidak ada.
Tapi ada secarik kain putih yang terjemur disitu melambai-lambai tertiup angin. Aku mencoba meraih secarik kain itu, terlihat ada tulisan berwarna hitam tertera disitu. Lalu aku baca : “Terima kasih sudah menemani kami selama ini.”
Tubuhku membeku.

No comments:
Post a Comment
terima kasih sudah memberikan komentar, kritik dan saran